Kisah Jingga dan Baskara

DSCF3222

Kali ini badai yang Jingga hadapi rasanya luar biasa. Ini lebih sulit dari badai pasir lalu.  Badai rindu ini tak kunjung tuntas, karena Ia hadapi sendiri kali ini. Bagaimana meredakan badai kerinduan? Tanyanya bingung. Segala resah dan kebahagiaan yang Baskara ciptakan adalah untuknya sendiri. Anehnya Jingga justru ikhlas. Diterimanya Baskara yang begini, Baskara yang begitu. Tapi bukankah jungkat jungkit tidak pernah bergerak jika berat sebelah?!
Sekali lagi Jingga bingung. Diakah yang justru hanya perlu berjalan mengentas menyelamatkan batinnya?
Menerima bahwa mungkin Jingga tidak pernah berada pada mimpi Baskara sungguh sulit. Tidak pernah ada orang yang menyentuh batinnya begitu dalam. Tidak pernah ada orang yang membuat Jingga merekahkan senyumnya sebahagia itu. Tidak pernah ada yang membuat Jingga merasa dilindungi sehangat itu. Tidak pernah ada orang lain yang membuatnya merasa utuh. Tidak pernah ada yang membuat keresahan Jingga seolah semua baik-baik saja. Hanya Baskara yang bisa.
Tapi Baskara juga yang telah membuat Jingga kehilangan ronanya. Jingga meredup di kecup sedih. Pijarnya pudar karena Baskara tak pernah melihat Jingga seperti Jingga melihat Baskara. Baskara tak memahami Jingga seperti Jingga memahaminya. Tak pernah sekalipun Jingga meragukan seorang Baskara. Karena tidak ada tempat untuk keraguan itu sendiri.
Kini jingga harus berhenti menunggu. Musim hujan telah tiba. Air dari langit perlahan mulai menghapus rona cinta antara Jingga dan Baskara. Senyum Jingga hambar papar. Jingga masih sembunyi di balik payung hitam berlindung dari Baskara.
Jika musim panas datang, Jingga hanya perlu diyakinkan untuk tetap mau berjumpa dan bersama Baskara agar biasnya kembali berpendar cantik. 
Karena Jingga tahu tidak ada tempat untuk keraguan..

 

Rindu untuk Tuan

Bergayut sembilu rindu

Terperosok kisah tak kalam

Bagaimana bisa Saya rindui Tuan

Sedang Tuan hanya rindu pada diri Tuan

Gulana tak ayal berjujai

Menerka rasa tak kasat

Mencecap kenang bergayut semu

Sungguh Tuan hamba rindu

Hamba takut gelam karam lalu mati

Sebab Tuan tak jua melabuhkan hati

Bersandar peluh biru lenyap diufuk jingga

Hamba rindui Tuan yang merindukan saya

Bersama secarik sajak kerinduan antara melayu dan batavia

Hamba titip rindu untuk kalbu Tuan

Hamba tunggu di peraduan

 

Batavia, 12 Desember 2017

Tuhan Memang Maha Asyik

Terkadang aku penasaran perbedaan antara firasat dengan intuisi.

Seringkali aku tahu apa yang akan terjadi seperti orang tahu bahwa langit berwarna biru. Kusebut saja itu pertanda. Ia seringkali datang lewat mimpi yang esoknya terekam jelas dan mengganggu pikiranku. Kemudian aku berusaha melupakannya. Ku anggap itu bunga tidur. Ternyata pertanda itu hanya menunggu untuk bertemu maknanya. lalu aku hanya merasa lebih lega jika pertanda itu telah ku mengerti.

Seperti postinganku sebelumnya, aku tidak tahu kemana Tuhan akan membawa hidupku ini. Lagi-lagi aku sedang bermain pada takdir Tuhan yang orang sebut cobaan. Tapi obrolan sembari sarapan pagi ini di rumah menyadarkanku pada jenis-jenis cobaan yang sungguh nyata. Ekonomi, Jodoh, Iman, Kekuasaan, Harta, Ilmu, Kesehatan, Keturunan dan sebagainya. Pengalaman mengenyam kepahitan super di usia 25 seperti jamu brotowali level 10 dan dadar penyet pedas level 30, membuatku hanya menjalani cobaan kali ini dengan tertawa meskipun isi kepala sudah ingin meledak dan dada kian sesak.

Tuhan sungguh Maha Asyik. Tidak ada yang sulit untuknya, tidak ada yang tidak mungkin. Aku tahu kita sudah di orbit-Nya, hanya menunggu waktu untuk bertemu. Hanya menunggu waktu untuk menyadarkan kita pada apa yang memang sudah garisnya, sudah takdirnya.

Tapi sekali lagi, aku masih bingung membedakan firasat dengan intusi. Aku masih perlu waspada. Membaca postinganku sebelumnya juga membuatku mengingat lagi apa yang telah mencapaiku pada titik sekarang. Lagi-lagi aku terkekeh mengamini “never expect of something, you’ll get everything”. Tuhan memang Maha Asyik.

December rain, 2017

Orang Biasa

DSCF3828

Sampai sekarang aku masih sering bertanya pada diriku sendiri “Jadi, manfaatmu apa di dunia ini?”

Aku terlahir dari keluarga yang penuh perjuangan. Baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan kekeluargaan. Aku pernah berada di titik dimana aku memiliki segalanya, sebagai anak-anak apa yang ku ingin bisa kubeli. Tapi orangtuaku paham betul soal perjuangan. Buat mereka segala sesuatu butuh proses, tidak ada sesuatu yang instan. Krisis moneter 1998 berimbas juga pada roda perekonomian sebagian besar bisnis di Indonesia, termasuk Jakarta, termasuk bisnis keluarga kami. Benar seperti Abahku bilang; bahwa keinginan gusti Allah itu hanya sekedip mata, roda itu berputar. Orangtuaku tidak berpendidikan tinggi, tapi universitas kehidupan telah menempa mereka. Di saat sulit seperti itu mudah sekali menyeleksi siapa “keluarga sebenarnya”. Siapa yang akhirnya harus dijaga dan diingat selamanya. Alhamdulillah sesulit apapun kami tidak pernah sampai putus sekolah, hanya sedikit menahan lapar. Ada momen diusia ku yang ke 12 tahun, selama 3 tahun aku merasa seperti di buang. Keluar dari rumah dan tinggal di tempat yang entahlah rasanya pahit sekali untuk kuingat dan menyeretku ke drama keluarga besar yang memuakkan. Kemudian 3 tahun lagi masa-masa SMA ku lagi-lagi jauh dari orangtua dan keluarga. Berkali-kali aku harus berjuang rasanya melepas kebebasan selama berada ditempat yang tak pernah kutuju “pengasingan”. Perjuangan masih berjalan hingga saat ini. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan tanpa henti??

Perjalanan hidupku memang tak ada apa-apanya. Tapi di saat-saat kritis pubertas seorang remaja, aku tak punya siapapun. Aku tumbuh berkesperimen terhadap hidupku sendiri. Tak ada yang memotivasi sebaiknya nanti aku jadi apa saat dewasa, kuliah dimana, apa yang harus kulakukan dengan prestasi belajarku, curhat saat sedang naksir seseorang, patah hati dan sebagainya. Aku sendirian. Namun, karena aku sendirian aku menemukan solusi-solusiku sendiri. Mereka bilang aku lebih dewasa dibanding usiaku. Tapi banyak yang tak paham kekosongan di dalam jiwa ini. Hingga aku akhirnya bisa membaca signal kosong dan redup pada jiwa seseorang.

Aku paham betul rasanya sendirian. Tidak enak. Aku dengan mudah membaca signal gundah pada beberapa temanku. Mereka orang-orang yang selalu menyediakan kuping dan bahu saat persoalan hidup menghimpitku. Ada 3 orang dalam sehari yang kuhubungi. Satu di Tangerang, satu di Bangka Belitung, satu di Pacitan. Setidaknya dalam keadaan seperti itu, mereka hanya perlu telinga untuk didengarkan, mungkin nasihat malah akan numpang lewat. Sejak dulu aku menjadi tong sampah curhatan orang lain. Curhatanku sendiri sudah ku olah jadi kompos.

Terkadang aku masih mempertanyakan mengapa jalan hidupku seperti ini, di saat orang lain sudah berlari marathon, aku masih berusaha belajar berjalan. Hidup mereka rasanya kok ya mulus saja. Beberapa orang sedang bangga memiliki teman dan koneksi orang-orang hebat. Beberapa orang berbangga dengan apa yang telah dicapainya. Tapi aku masih disini jadi penonton. Perlahan aku sadar bahwa mungkin itu fungsiku. Aku bukan orang hebat, tapi Tuhan mungkin mentakdirkanku untuk tetap berada di ranah ini. Mungkin Tuhan mengajariku untuk membuat pilihan. Jadi wanita biasa yang hanya jadi supporter. Atau jadi wanita biasa yang jadi supporter juga penasehat supaya mereka keep on track, memberikan tepuk tangan paling keras untuk keberhasilan orang lain, dan menyediakan bahu juga memeluk erat saat dunia mereka seperti runtuh. Aku memilih untuk jadi yang kedua. Karena jadi wanita biasa itu membosankan. Setidaknya aku masih punya manfaat.

Entahlah kemana lagi Tuhan akan membawaku. Semoga aku tetap bermanfaat meski tak diingat.

Jakarta, Hujan bulan Oktober 2017

Senjaku Tak Lagi Sama

Seperti apakah rupa takdir yang mempertemukan kita. Lucu rasaya bila kuingat jika jalan yang kutempuh sampai takdir bergulir pada jabatan tangan yang seharusnya mungkin tak pernah kulakukan.

Segala drama keluarga, percintaan, juga soal intelektualku yang diremehkan menghimpitku parah dan membuatku limbung tak sanggup berdiri ditempat dimana aku berada saat itu. Hingga aku yang terpaksa harus menunda study masterku meskipun sudah dinyatakan diterima di Universitas Indonesia. Sejak kuraba damai senja saat semua orang kembali menuju “rumah” dunia seperti berhenti tak bersuara, hanya damai. Juga matahari terbit Ijen Carter 2015 yang membuatku lupa hampir collapse di tengah pendakian, aku makin menyukai jingga. 

IMG_20170926_173852_HDR

Di timur pulau jawa, kunikmati senja seperti yang kulakukan biasanya. Kala itu aku menangkap senyumnya di ujung jingga. Sejak saat itu, senjaku tak lagi sama…

Senjaku kian sempurna saat Ia berada di dekatku. Senjaku kian hampa saat kita kian terhempas. Entah mana yang kurindui; senjaku atau senja kita??? Entah mana yang kita rindui; kita atau kenangannya??? Tapi satu yang pasti, takdir masih berjalan… Entah kemana dan kapan Ia akan merekahkan senjanya. Apakah aku harus menikmati senja lain? Aku percaya, dimanapun senja, Ia akan bertemu langit. 

“Ada orang pernah bilang, kenapa senja selalu menyenangkan. Kadang dia hitam kelam, kadang dia merah merekah. Tapi langit, selalu menerima senja apa adanya” –Sore Istri dari Masa Depan-

 

 

Mereka yang terlupa dan melupa

Mengentas batas bahwa segala sesuatu memang selesai. Segala resah di matamu adalah bukan tentangku. Tapi soal dirimu sendiri. Ada masanya kehadiran hanya soal pemanis. Ada kalanya kebaikan bukanlah soal memberi kepada orang lain. Tapi soal bagaimana “berharap itu akan kembali”. Adakalanya yang lebih ada adalah yang paling berjasa. Apalagi yang bisa kau harap dari sebuah roda kehidupan yang memang sedang berputar? Cemas? tentu! itu manusiawi. Merasa makin jauh? tentu saja! Karena jarak tak pernah berbohong.

Jarak antara mimpi yang terasa dekat, kian beranjak jauh. Seperti mereka yang kian terlupa, aku pun harus ikut melupa. Bahwa tidak ada batas antara cinta dan ikhlas. Sekeras apapun pernah terbentur dan belajar seperti master soal ikhlas, ia akan menjadi murid baru lagi saat masalah menghimpit kembali. Kurasa tidak ada orang yang benar-benar lulus dari ujian ikhlas.

Sebuah pilihan, untuk bertahan pada cerita lama atau memulai esok yang lebih teka-teki. Entah seperti apa kecemasan soal esok hari, biarkanlah… aku terlalu lelah menerka esok dari kisah kemarin yang tak pernah punya kepastian. Aku berhenti melupa untuk aku yang tak pernah menjadi prioritas. Aku menolak lupa untuk aku yang selalu menjadi option. Karena tidak ada tempat pada sebuah keraguan. Di saat yang bersamaan aku pun tak mau melupa soal ikhlas. Terserah apa yang kamu dan mereka mau dari ku. Pada akhirnya tidak penting untuk mengingat siapa aku buat mereka. Sudahlah, biar tangan Tuhan yang bekerja..

 

Definisi

Suatu hari seorang teman sedang mencurahkan kegelisahannya padaku. Sambil menunggu meeting aku mendengarkannya bercerita yang sepertinya sudah ditahannya nyaris tumpah. Bahwa setiap orang memiliki pilihannya dan prioritasnya. Termasuk panggilan pada umumnya wanita berada di “dapur”.

Bagi kawanku itu, sektor dapur bukan “panggilan” untuknya, meskipun Ia memiliki passion terhadap anak-anak dan mampu untuk melakukannya. “Kita bukan perempuan seperti itu kan Vi, yang hanya di dapur saja??” Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lebih dari itu, aku sedang berusaha untuk tanggap keduanya. Seperti postinganku sebelumnya, cita-citaku adalah menjadi Ibu yang mampu mendidik anaknya. Aku paham betul bahwa perempuan juga memiliki kebebasan mutlak untuk menjadi apa dan melakukan apapun untuk dirinya. Emosi dan perasaan menjadi kekuatan seorang wanita. Tapi dia juga seperti dua mata panah yang melesat. Bisa membunuh musuh (masalah) juga bisa membunuh diri sendiri (perasaan sendiri). Aku belajar bahwa untuk menjadi wanita yang cerdas, mampu mengendalikan emosi dan logikanya. Walau bagaimanapun, intuisi wanita selalu menjadi senjata yang harus selalu diasah. Buatku, intuisiku tak pernah mengkhianatiku. Perasaan dan batin yang tajam ini mampu membantuku memilah, mana yang sahabat, mana yang kawan. Mana yang positif, dan mana yang negatif. meskipun terkadang logika terkapar parah, aku berusaha untuk membangkitkannya. Bukan untuk apapun, hanya untuk diriku sendiri supaya menjadi “wanita yang cerdas”.

Aku tak peduli bahwa masih banyak orang yang meng-underestimate-ku. Itu bukan ranahku lagi. Aku hanya berusaha memperbaiki diri, berusaha membuat kualitas diri dan hidup yang lebih baik. Namun sayangnya masih banyak yang tidak menghargai proses. Toh mereka tak perlu tahu bagaimana prosesku sampai titik sekarang, dan pada kenyataannya memang banyak orang yang tidak peduli pada proses perjalanan, apa yang telah dilalui. Banyak yang hanya percaya bahwa “pintar” adalah soal akademis dan finansial. Tapi buatku, tanpa kecerdasan emosional semua hanyalah berbanding dengan 0 besar. Hai wanita, jadi apapun itu, adalah hak mu. Tapi untuk menjadi wanita cerdas adalah sebuah pilihan. Cerdas, pendidikan, cantik, dan sukses memiliki banyak definisi. Namun definisikanlah dirimu dengan lebih bijak.

 

 

Fakultas Kopi, 22 September 2017