The Wall and The Breaker

Setiap orang memiliki dindingnya sendiri. Dinding yang terbangun atau sengaja dibangun.

Dalam kesendirian, di tempat dimana tak ada seorangpun yang kau kenal kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri. Dalam kesendirian pula kau akan mengenal dirimu yang sebenarnya.

Jangankan menemukan kawan sepantar, berkenalan dengan orang baru rasanya sulit buatku. Pengalaman-pengalaman pahit pertemanan sebabnya. Tuhan memberikan anugerah berupa perasaan yang kuat dan bisa paham seperti apa sifat orang yang sedang kutemui. Itu semua tak pernah mengkhianati. Justru pertemananku dimulai dengan mereka yang menyapa atau mengajakku berkenalan duluan. Keuntungannya, aku memiliki kualitas teman yang benar-benar teman. Tapi itu yang membuatku dicap sombong dan sulit menjalin pertemanan. Sedih sih, tapi ya bagaimana, itu sifat dasarku yang juga aku tak suka. Berulangkali berusaha untuk mengubahnya, My Bad! I just can’t make it. Hehehehe… dan … inilah yang kumaksud dindingku. Tidak mudah memasukkan oranglain ke dalam kehidupanku.

DSCF4004

Di tempat itu, setelah berhari-hari tak memiliki teman dan kemana-mana sendirian, aku malah menyapa seseorang. Entahlah, dia orang pertama yang ku ajak berkenalan di tempat itu. Bertemu dengannya seperti menemukan “aku” yang sesungguhnya. Aku bersedia berbagi dengan orang asing sepertinya. Apapun yang kusimpan entah kenapa melontar dengan mudah di hadapannya. Kami tak pernah kehabisan topik bersama kopi hitam favorit yang menemani atau es teh kesukaan kami. Biasanya aku yang akan cerewet bercerita dan minta didengar. Namun, Dia membuatku menjadi pendengar dongeng-dongengnya, guyonannya, cerita hidupnya, pekerjaannya. Anehnya aku tak pernah merasa keberatan. Mungkin seperti Jonas Blue bilang perfect stranger – (who break my wall.)

copy DSCF3842

Menatap jingga matahari terbenam maupun matahari terbit sudah menjadi hal favoritku sejak lama. Beruntung ditempatku berdiri, menemukan jingga indah nan magis tidaklah sulit. Kami pun kerap menikmatinya bersama kemudian tenggelam pada pikiran masing-masing. Beberapa temanku di Jakarta berkomentar soal foto yang ku share di media social. Mereka bilang senyumku terlihat lebih bahagia. Ya, aku sangat bahagia. Ini hidup seperti yang kuharapkan. Kutemukan diriku yang sesungguhnya dan ada kebahagiaan lain yang kutemukan semua terasa lengkap.

Tak pernah tahu permainan takdir akan membawaku kemana lagi dalam cerita ini. Diam-diam aku jatuh. Meski ku kebas-kebas segala lamunan dan kucubiti lenganku untuk segera tersadar. Tapi aku percaya tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. Radarku menangkap gelombang gundah dan dahaganya yang tak kian tuntas. Aku mengentas, meretas teka teki batinnya. Perihal batas. Aku disapih pada batas dan dinding bisu yang tak mau Ia dengar suaranya lebih dalam. Kini kumelarung rindu dan sabar yang kuletakkan di ujung tekad permainan takdir. Biar Tuhan yang bekerja. Toh Tuhan tak pernah tidur. Skenario terbaik sudah ada di tanganNya. Kami para wayang hanya menunggu lakon kami dimainkan oleh sang Dalang kehidupan.

Kawulo mung sadermo, mobah mosik kersaning Hyang sukmo.

Close your mind or take a risk

Aku meringkuk pada riuh Jakarta

Lelah, pekat dan tajam

Aku tersungkur dalam jejak nyata

Aku beringsut menyaut koper yang telah lama ku isi

Aku pergi

Sendiri…

Lalu, perjalanan ini dimulai.

Aku menyeruput raspberry latte starbucks sambil mewarnai buku gambar di Setiabudi One building sepulang kantor. Aku merasa masih “entahlah – Nano-nano” atas keputusan besar yang akan kuambil. Mungkin dengan sendirian akan memberikan aku jeda lebar untuk berpikir dan mewarnai dapat menata emosi yang mengambang. Kuseruput lagi minumaku hingga dering telepon dari ibuku yang mengecek keberadaanku membuatku berkemas pulang.

Menjelang akhir September 2016. Aku semakin menjadi menikmati hari-hari dimana hiruk pikuknya seperti irama yang menari dan kurekam setiap ritmenya di otak. Sepinya Trans Jakarta di jam 08.30 pagi dan padatnya Trans Jakarta wilayah Kuningan Jakarta Selatan di jam pulang kantor. Orang-orang yang sama yang kerap ku temui di shelter. Senyum teman-teman di kantor, candaan para OB, Pak Satpam, detail lift dan tangga yang kian aku amati, sudut meja kerjaku dengan segala foto yang kupajang, tumpukan buku yang sedikit demi sedikit ku bawa pulang, juga setiap detil jalan yang ku lalui ku rekam semakin dalam. Hampir setiap hari ku isi dengan meet up dengan orang-orang terdekat untuk berpamitan. Bagaimanapun keluar dari comfort zone tak pernah mudah. Semua itu akan segera ku tinggalkan untuk menyusun langkah besar.

But you can say what is, or fight for it
Close your mind or take a risk
You can say, “It’s mine,” and clench your fist
Or see each sunrise as a gift (Up&Up, Coldplay)

Lagu ini terngiang terus di telingaku. Close your mind or take a risk,  yeah I did it. Setelah segala drama di 2015 dan mengekor di 2016, rasanya itu pilihan yang tepat. Mewujudkan cita-cita, ambisi, dan spasi. Itu yang aku benar-benar butuhkan.  Aku percaya Tuhan akan berikan jalan.  Something better waiting me, and I believe it. 

Singkat cerita, aku memulai solo trip ku di Bali. Aku masih ingat bagaimana anak manja ini berpamitan dan menahan air mata agar tak jatuh di depan orangtuaku. Aku bungsu yang gagal karena setelah 11 tahun, aku memiliki adik. Jadi sifat manja itu masih melekat. Aku menolak tawaran Abahku untuk mengantarku ke Bandara Halim yang jaraknya dapat ditempuh 20-30 menit saja dari rumah tanpa lewat tol. Bagaimanapun perpisahan walau sementara adalah moment yang tidak pernah disukai siapapun. Ibuku menangis, memelukku dan mencium pipiku. Aku melihat mata merah Abahku saat membawakan koper jinjing gambar minionku itu ke dalam mobil grab yang ku naiki. Bagaimanapun, for him, I always his little girl. Setelah 8 tahun, ini adalah moment aku merantau dan jauh lagi dari rumah untuk waktu yang sedikit lama. Rencanaku Desember aku sudah kembali.

Dalam perjalananku di Bali, aku menemukan banyak sekali hal menarik. Bahwa teori perubahan sosial itu pasti terjadi benar-benar membuatku terbelalak. Kawan tak selamanya kawan sesungguhnya. Namun, kawan baik selalu ada. Kudedikasikan untuk Widya Pramunsita teman SMA ku yang tak pernah berubah sikapnya terhadapku, Nadya Pryana kawan yang selalu memberi waktu setiap ada kesempatan. Ironisnya, saudara tak selamanya sekental darah. Membuatkubersyukur persaudaraan dengan orang-orang tulus menjadi sangat berharga.

Hidup dalam ritme yang aman membuatku merasa bahwa segala sesuatu harus sesuai rencana dan harus aman. Aku takut memulai ini itu. Sampai seorang teman berkata; “Duh Fi, lo apa-apa takut, gimana mau nikmatin hidup!”. Aku terhenyak. Sunset jingga keemasan Kuta Bali yang indah itu menenggelamkanku dalam perkataan temanku yang seperti menamparku. Hingga aku putuskan untuk mulai mengandalakan diriku sendiri dalam langkah yang kuambil di hari-hari berikutnya, expect the unexpected. Lalu kurasakan aku merasa lebih lepas, lebih bebas.

2016_1007_07341300.jpg

Aku selalu berdoa kepada Allah untuk melindungiku dan memertemukanku dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Aku di pertemukan dengan Pak Wayan Jendra. Rambutnya gondrong seperti rocker, Tattoo di seluruh tubuhnya dan kaca mata hitam menempel di hidungnya. Beliaulah yang pada akhirnya membantuku keliling Bali dengan mobil sewaannya. Awalnya aku ragu karena penampilannya yang menyeramkan. Tapi entah kenapa aku yakin, setiap orang baik akan dipertemukan dengan kawan yang baik pula. Beliau kaget aku hanya sendirian di Bali. Setelah tawar menawar harga sewa mobil, beliau akhirnya sepakat dengan berkata “Ya sudah, ndak apa-apa, yang penting Alfi tidak sedih lagi”. Aku terkekeh ringan, “Emang segitu kelihatannya yah Pak saya”?. Obrolan sore itu di tutup dengan gelak tawa kami, Pak Wayan, Aku dan pemilik warung di dekat Desa Nyi Luh Kuning, Ubud Bali.

 

Terima Kasih Ya Allah, Kau dengar segala doa Ibu, Abah, dan doaku untuk selalu menyertaiku, melindungiku dan memberkahiku dimanapun aku berada. Allah Maha Baik.

Seperempat Abadku

Aku ingin mengambarkan bagaimana seperempat abadku sebagai titik puncak Tuhan memelukku dengan mengajarkan banyak hal. Orang bilang, kedewasaan akan semakin teruji ketika kita menginjak usia 25.

Ada dua hal yang tidak pernah ku suka. Salah satunya adalah ulang tahun. Setelah tertawa dan membalas satu persatu ucapan Happy Birthday dari teman-teman, aku berakhir sendirian lagi. 4 Februari 2015, teman-teman kantor memberikanku surprise tergila. Seharian aku dikerjai habis-habisan. Melipstikiku dengan 2 warna berbeda, mengalungiku dengan terong ungu -> karena aku suka sambal terong. Mereka juga mengundang teman kantor dari team lain yang mirip dengan penyanyi Tulus. Tiba-tiba suara gitar dan suara “Tulus” menyanyikan lagu Teman Hidup menggema di sekitar meja kerjaku. Tidak puas mereka menaburiku dengan kembang tujuh rupa dan birthday cake berupa Martabak Telor lengkap dengan lilin angka 100. Penutupan aku masih diolesi semir sepatu sisa product sambil harus menyapu sisa kembang tujuh rupa dari sekitar mejaku. Namun setelah selebrasi usai, aku merasa sendirian. Orang rumah lupa akan hari ulang tahunku, dan sahabat-sahabatku  hanya mengirim sebatas ucapan. Nothing special.

Seperempat abadku menjadi “ramai” dengan berbagai ceritanya. Setiap malam tidurku dan adikku tak lagi nyenyak karena Ibuku yang gusar tentang sebuah persoalan orangtua. Aku khawatir dengan keadaan orang rumah, terutama psikologis adikku yang masih duduk di bangku SMP. Kakakku sudah tinggal terpisah dengan keluarga kecilnya. Sungguh persoalan ini menguras waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran. Kian hari kian rumit. Project dikantor sedang penuh karena menjelang bulan puasa. Namun, disaat itu juga Ibuku sering menelponku untuk membicarakan persoalan rumah. Di rumah aku otomatis menjadi orang dewasa yang dipaksa berpikir bijak, kuat dan dewasa. Tapi aku rapuh di dalam. Menangis diam-diam di toilet adalah hal yang bisa kulakukan saat semua sudah tidak bisa ku pendam.

Tuhan, memang baik. Di saat aku benar-benar butuh teman, Yudha sosok yang selama dua tahun ini aku coba lupakan, datang lagi. Sesaat seperti oase dan bahu yang benar-benar aku butuhkan. Kali ini Ia mengulang kisah yang sama. Pergi lagi. Terkadang seseorang datang lagi dalam kehidupan kita hanya untuk menyapa bukan menjalin. Kali ini aku rasa cukup, aku ingin hidup lebih bahagia tanpa embel-embel “lihat nanti” lagi darinya. Disaat pertengkaran hebat kami, keponakan pertamaku Raisa lahir. Sungguh seperti obat, aku lebih memilih begadang menggendongnya bergantian dengan kakak iparku saat malam karena Raisa rewel daripada memikirkan hubungan ini. Raisa membantuku untuk melupakan persoalan ini dengan lebih cepat.

Persoalan di rumah belum juga selesai, hanya mereda. Adikku jatuh sakit karena ikut memikirkannya. Ia harus di opname. Sungguh cobaan yang bertubi-tubi. Sempat aku skeptis mempertanyakan “Tuhan ada di mana??”. Tapi sahabatku Defi bilang; “akan ada hadiah yang indah banget atas segala ujian yang kamu alami”. aku mengangguk berusaha mempercayainya. Aku kehilangan berat badan beberapa kilo, mataku sembab dan lingkaran hitam menjadi riasan.

Di penghujung Tahun, aku bertemu dan menjalin pertemanan dekat dengan seseorang, namun itu tak bertahan lama. Lagi-lagi kebohongan membalutnya. Aku gagal lagi. Akupun menunda rencana S2 ku meskipun aku sudah diterima di Universitas Indonesia karena usaha keluarga sedang bermasalah.

Aku masih terus berusaha mencerna apa hadiah indah itu. Sekarang aku paham, bahwa itulah tai-tainya hidup. Itulah titik balik Tuhan memelukku dengan berbagai masalah dan kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi. Tuhan memberiku kekuatan, kedewasaan dan kepercayaan. Bahagia itu diciptakan, bahagia itu dekat, bahagia itu bersyukur.

Itulah seperempat abadku yang dijungkir balikkan Tuhan, membuatku menjadi perempuan yang lebih kuat seperti sekarang.