Pada satu titik

Tibalah aku pada satu titik, dimana aku bisa membiarkanmu berbicara dan aku mendengarkan

Tibalah aku pada satu titik, dimana ada seka tipis antara garis khayal dan kebenaran

Tibalah aku pada satu titik, dimana garis batas telah menguburkan segala yang harus terucap

Tibalah aku pada satu titik, dimana ribuan hari kurapali segala puisimu, tawamu, sedihmu, dan racaumu

Tibalah aku pada satu titik, dimana berkali-kali kupastikan namun semakin keliru

Segala rasanya tak pernah berubah, berderit semakin kencang, semakin sesak merajuki batinku yang sengau

Tibalah aku pada satu titik, dimana harus ku lampaui batas, seka dan akui bahwa aku mencintaimu lebih dari kemarin

Advertisements

MOVE ON

MOVE ON: General words meaning to leave a place:leave, move on, go away… to stop discussing or doing something and begin discussing or doing something different. Source: https://www.macmillandictionary.com/dictionary/british/move-on

Move on sebenarnya adalah hal yang general. Tapi kali ini pembahasannya berkaitan dengan relationship. Kata-kata ini terbang dikepalaku dan kuputuskan untuk menuliskannya saja supaya ku bisa tidur nyenyak dan bisa bangun sahur nanti.

Tik Tok Tik Tok.. Sudah lewat tengah malam. Oh Night! Let me finish pouring my thought!

Move on buka perkara mudah untuk sebagian orang. Fokusmu masih tertuju pada satu hal; entah dia, entah kenangannya. Bisa jadi keduanya. Move on bukan perkara melupakan. Kecuali kau benar-benar hilang ingatan. Memilih pergi, memilih meninggalkan, memilih berhenti untuk melakukan atau membicarakannya begitu menurut kamus online. Namun satu yang akhirnya aku sadar, bahwa move on adalah soal kesadaran untuk menghargai diri sendiri. Kita sering terlupa bahwa kita juga berhak bahagia.

Terlalu sibuk untuk melupakan, pergi sejauh mungkin atau mengalihkan pikiran, dan terlalu sibuk mengkhawatirkan kebahagiaan orang lain hingga lupa diri sendiri pun berhak bahagia. Aku paham bahwa bahagia itu relative. Tapi aku juga percaya bahwa bahagia itu di ciptakan. Bagaimana kita bisa menciptakan bahagia jika kita lupa bahwa kita juga perlu penghargaan dari diri sendiri?

Mungkin ini juga saatnya untuk merenung tentang mereka yang diam-diam justru menyayangimu, lebih memahamimu, mencintaimu dan merasa bersyukur kau ada di hidup mereka meskipun tidak pernah kau dengar suaranya.

Satu kesimpulannya, terkadang kita harus berhenti untuk memikirkan sesuatu yang melelahkan seperti merapal masa lalu. Karena hal yang lebih bermanfaat adalah menciptakan bahagia dari menghargai diri sendiri. Di mulai darimana? Dari berdamai dengan diri sendiri. Enjoy the process. No body’s perfect! Nothing instant! And the last is find yourself!

Selamat berbahagia wahai diri!

Jakarta, 2 Juni 2018

 

 

 

PULANG

 

DSCF9298

Matahari beriring cahaya beradu langit kota yang sendu. Pendarnya masih sama, pun debarnya.

Ada alasan Baskara menjongkah bumi yang damai ini, untuk menjadi senja. Jerumai jingga dimana kita pernah saling ada dalam kesunyian pada masing-masing batin yang saling pulang. Pun kalah pada masing-masing ambisi masa muda yang songar. Kita sama-sama lelah pada permainan ego nan rumpil. Hingga semiang ceritamu, ceritaku. Sudahilah jelaga nafas yang berjela. Heninglah pada guguh batinmu yang berbicara. Karena kita sama-sama tahu, hanya pada jingga senja kita saling berpulang.

di langit senja Yogyakarta, 10 Maret 2018

 

 

Batas, Jarak dan Rindu

Bertaut pada batas yang memisahkan logika dan emosi, merentangkan jarak pada setiap tempat dimana pernah ada kita.

Bukan 520 km apalagi 1264 km bentang antara hela nafas dan ambisi muda kita. Tapi perihal batas yang menciptakan jarak antara hati dan rindu. Perihal kau kelabui rona senja pada bibir jingga di ujung kata.

Sungguh menunggu tak pernah seperih ini. Seperti rindu bergayut biru. Tak pendar ditelan pudar. Biarkan kureguk rasanya seperti segelas kopi yang kau minum seperti air. Hilang kantukmu, hilang dahagamu. Tapi hilangkah rindumu setelah kau usap jemari cemasku.. Maka sapalah sekali lagi. Barangkali kecut hatimu bak sebongkah rindu yang mencair, hanyut dan berlabuh

Aku tak butuh Rangga apalagi Dilan. Aku cuma mau kamu..

 

Jakarta, 12 Februari di batas antara kemarin, hari ini dan esok

Dialog 28 Tahun

Kita tidak pernah tahu bagaimana esok. Sedikit banyak merapal masa lalu.

Februari, bulan hujan. Aku tak berharap 4 Februariku akan seindah tahun lalu. Bila hujan, biarlah hujan. Bila sendiri biarlah sendiri. Takbisa lagi aku muluk-muluk meminta seperti bahagiaku di 4 februari 2017. Tapi bohong juga aku tak berharap. Khawatir aku tak bertambah satu tahun depan.

Aku belajar bahwa mencintai orang lain lebih mudah daripada mencintai diri sendiri. Alvie belajar tersenyum di cermin. Berdialog pada diri sendiri untuk mencintai. Bukankah diri juga perlu bercengkrama solitaire. Menghargai keberadaan diri, menghargai bahwa setidaknya Ibu ku masih bersyukur dan berniat membuatkanku nasi kuning yang akhirnya ku cegah khawatir Ia lelah.

Memang kadar kasih orang berbeda. Ada yang sangat bersyukur untuk memilikimu. Terkadang kau sangat bahagia seseorang ada dalam hidupmu. Entah sebagai keluarga, teman, sahabat atau kekasih. Tapi effortnya bisa jadi tak sama. Maka dari itu, bersabarlah diri, hidup penuh kejutan, hidup penuh tipu daya, tapi hidup juga penuh cinta. Kau hanya belum menemukan yang seirama. itu saja.

Sungguh tahun yang berat, meskipun ada hal lain yang melesat.

Tuhan, terima kasih satu tahun lagi kau beri sempat. Izinkan hamba jadi lebih giat.

Tuhan, kali ini doaku sederhana tapi aku tahu ini berat; hadiahilah aku ikhlas atas segala ceritamu, dan sisa doaku biarlah aku dan Engkau yang tahu.

Sungguh hidup memang aneh. Seperti aku yang mulai menyukai gelato rasa kembang; Rose Petals dan Blueberry Lavender . Terima kasih diri, sudah menjadi kuat dan mengerti. Semoga bertemu tahun depan dengan kejutan yang luar biasa lagi. Supaya bisa ku sebut 4 Februari sebagai ulang tahunku, hariku.

IMG_20180205_200611

Sehari setelah ulang tahunku ke 28

di Secret Gelato, Cikini 2018.

 

Kisah Jingga dan Baskara

DSCF3222

Kali ini badai yang Jingga hadapi rasanya luar biasa. Ini lebih sulit dari badai pasir lalu.  Badai rindu ini tak kunjung tuntas, karena Ia hadapi sendiri kali ini. Bagaimana meredakan badai kerinduan? Tanyanya bingung. Segala resah dan kebahagiaan yang Baskara ciptakan adalah untuknya sendiri. Anehnya Jingga justru ikhlas. Diterimanya Baskara yang begini, Baskara yang begitu. Tapi bukankah jungkat jungkit tidak pernah bergerak jika berat sebelah?!

aSekali lagi Jingga bingung. Diakah yang justru hanya perlu berjalan mengentas menyelamatkan batinnya?

Menerima bahwa mungkin Jingga tidak pernah berada pada miampi Baskara sungguh sulit. Tidak pernah ada orang yang menyentuh batinnya begitu dalam. Tidak pernah ada orang yang membuat Jingga merekahkan senyumnya sebahagia itu. Tidak pernah ada yang membuat Jingga merasa dilindungi sehangat itu. Tidak pernah ada orang lain yang membuatnya merasa utuh. Tidak pernah ada yang membuat keresahan Jingga seolah semua baik-baik saja. Hanya Baskara yang bisa.

Tapi Baskara juga yang telah membuat Jingga kehilangan ronanya. Jingga meredup di kecup sedih. Pijarnya pudar karena Baskara tak pernah melihat Jingga seperti Jingga melihat Baskara. Baskara tak memahami Jingga seperti Jingga memahaminya. Tak pernah sekalipun Jingga meragukan seorang Baskara. Karena tidak ada tempat untuk keraguan itu sendiri.

Kini jingga harus berhenti menunggu. Musim hujan telah tiba. Air dari langit perlahan mulai menghapus rona cinta antara Jingga dan Baskara. Senyum Jingga hambar papar. Jingga masih sembunyi di balik payung hitam berlindung dari Baskara.

Jika musim panas datang, Jingga hanya perlu diyakinkan untuk tetap mau berjumpa dan bersama Baskara agar biasnya kembali berpendar cantik. 

Karena Jingga tahu tidak ada tempat untuk keraguan..

Rindu untuk Tuan

Bergayut sembilu rindu

Terperosok kisah tak kalam

Bagaimana bisa Saya rindui Tuan

Sedang Tuan hanya rindu pada diri Tuan

Gulana tak ayal berjujai

Menerka rasa tak kasat

Mencecap kenang bergayut semu

Sungguh Tuan hamba rindu

Hamba takut gelam karam lalu mati

Sebab Tuan tak jua melabuhkan hati

Bersandar peluh biru lenyap diufuk jingga

Hamba rindui Tuan yang merindukan saya

Bersama secarik sajak kerinduan antara melayu dan batavia

Hamba titip rindu untuk kalbu Tuan

Hamba tunggu di peraduan

 

Batavia, 12 Desember 2017

Tuhan Memang Maha Asyik

Terkadang aku penasaran perbedaan antara firasat dengan intuisi.

Seringkali aku tahu apa yang akan terjadi seperti orang tahu bahwa langit berwarna biru. Kusebut saja itu pertanda. Ia seringkali datang lewat mimpi yang esoknya terekam jelas dan mengganggu pikiranku. Kemudian aku berusaha melupakannya. Ku anggap itu bunga tidur. Ternyata pertanda itu hanya menunggu untuk bertemu maknanya. lalu aku hanya merasa lebih lega jika pertanda itu telah ku mengerti.

Seperti postinganku sebelumnya, aku tidak tahu kemana Tuhan akan membawa hidupku ini. Lagi-lagi aku sedang bermain pada takdir Tuhan yang orang sebut cobaan. Tapi obrolan sembari sarapan pagi ini di rumah menyadarkanku pada jenis-jenis cobaan yang sungguh nyata. Ekonomi, Jodoh, Iman, Kekuasaan, Harta, Ilmu, Kesehatan, Keturunan dan sebagainya. Pengalaman mengenyam kepahitan super di usia 25 seperti jamu brotowali level 10 dan dadar penyet pedas level 30, membuatku hanya menjalani cobaan kali ini dengan tertawa meskipun isi kepala sudah ingin meledak dan dada kian sesak.

Tuhan sungguh Maha Asyik. Tidak ada yang sulit untuknya, tidak ada yang tidak mungkin. Aku tahu kita sudah di orbit-Nya, hanya menunggu waktu untuk bertemu. Hanya menunggu waktu untuk menyadarkan kita pada apa yang memang sudah garisnya, sudah takdirnya.

Tapi sekali lagi, aku masih bingung membedakan firasat dengan intusi. Aku masih perlu waspada. Membaca postinganku sebelumnya juga membuatku mengingat lagi apa yang telah mencapaiku pada titik sekarang. Lagi-lagi aku terkekeh mengamini “never expect of something, you’ll get everything”. Tuhan memang Maha Asyik.

December rain, 2017

Orang Biasa

DSCF3828

Sampai sekarang aku masih sering bertanya pada diriku sendiri “Jadi, manfaatmu apa di dunia ini?”

Aku terlahir dari keluarga yang penuh perjuangan. Baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan kekeluargaan. Aku pernah berada di titik dimana aku memiliki segalanya, sebagai anak-anak apa yang ku ingin bisa kubeli. Tapi orangtuaku paham betul soal perjuangan. Buat mereka segala sesuatu butuh proses, tidak ada sesuatu yang instan. Krisis moneter 1998 berimbas juga pada roda perekonomian sebagian besar bisnis di Indonesia, termasuk Jakarta, termasuk bisnis keluarga kami. Benar seperti Abahku bilang; bahwa keinginan gusti Allah itu hanya sekedip mata, roda itu berputar. Orangtuaku tidak berpendidikan tinggi, tapi universitas kehidupan telah menempa mereka. Di saat sulit seperti itu mudah sekali menyeleksi siapa “keluarga sebenarnya”. Siapa yang akhirnya harus dijaga dan diingat selamanya. Alhamdulillah sesulit apapun kami tidak pernah sampai putus sekolah, hanya sedikit menahan lapar. Ada momen diusia ku yang ke 12 tahun, selama 3 tahun aku merasa seperti di buang. Keluar dari rumah dan tinggal di tempat yang entahlah rasanya pahit sekali untuk kuingat dan menyeretku ke drama keluarga besar yang memuakkan. Kemudian 3 tahun lagi masa-masa SMA ku lagi-lagi jauh dari orangtua dan keluarga. Berkali-kali aku harus berjuang rasanya melepas kebebasan selama berada ditempat yang tak pernah kutuju “pengasingan”. Perjuangan masih berjalan hingga saat ini. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan tanpa henti??

Perjalanan hidupku memang tak ada apa-apanya. Tapi di saat-saat kritis pubertas seorang remaja, aku tak punya siapapun. Aku tumbuh berkesperimen terhadap hidupku sendiri. Tak ada yang memotivasi sebaiknya nanti aku jadi apa saat dewasa, kuliah dimana, apa yang harus kulakukan dengan prestasi belajarku, curhat saat sedang naksir seseorang, patah hati dan sebagainya. Aku sendirian. Namun, karena aku sendirian aku menemukan solusi-solusiku sendiri. Mereka bilang aku lebih dewasa dibanding usiaku. Tapi banyak yang tak paham kekosongan di dalam jiwa ini. Hingga aku akhirnya bisa membaca signal kosong dan redup pada jiwa seseorang.

Aku paham betul rasanya sendirian. Tidak enak. Aku dengan mudah membaca signal gundah pada beberapa temanku. Mereka orang-orang yang selalu menyediakan kuping dan bahu saat persoalan hidup menghimpitku. Ada 3 orang dalam sehari yang kuhubungi. Satu di Tangerang, satu di Bangka Belitung, satu di Pacitan. Setidaknya dalam keadaan seperti itu, mereka hanya perlu telinga untuk didengarkan, mungkin nasihat malah akan numpang lewat. Sejak dulu aku menjadi tong sampah curhatan orang lain. Curhatanku sendiri sudah ku olah jadi kompos.

Terkadang aku masih mempertanyakan mengapa jalan hidupku seperti ini, di saat orang lain sudah berlari marathon, aku masih berusaha belajar berjalan. Hidup mereka rasanya kok ya mulus saja. Beberapa orang sedang bangga memiliki teman dan koneksi orang-orang hebat. Beberapa orang berbangga dengan apa yang telah dicapainya. Tapi aku masih disini jadi penonton. Perlahan aku sadar bahwa mungkin itu fungsiku. Aku bukan orang hebat, tapi Tuhan mungkin mentakdirkanku untuk tetap berada di ranah ini. Mungkin Tuhan mengajariku untuk membuat pilihan. Jadi wanita biasa yang hanya jadi supporter. Atau jadi wanita biasa yang jadi supporter juga penasehat supaya mereka keep on track, memberikan tepuk tangan paling keras untuk keberhasilan orang lain, dan menyediakan bahu juga memeluk erat saat dunia mereka seperti runtuh. Aku memilih untuk jadi yang kedua. Karena jadi wanita biasa itu membosankan. Setidaknya aku masih punya manfaat.

Entahlah kemana lagi Tuhan akan membawaku. Semoga aku tetap bermanfaat meski tak diingat.

Jakarta, Hujan bulan Oktober 2017

Blog at WordPress.com.

Up ↑