A Confession of The New Age

 

IMG_4511

Terlalu banyak orang menuntut bagaimana hidup seharusnya. Terlalu banyak standard yang diciptakan. Bahkan keluarga dan teman baik sekalipun. Terlalu banyak orang sok tahu atas apa yang terjadi padamu. Baru saja bercerita, sudah di tebaknya alur bicara dan sok tahu dengan disimpulkannya apa yang terjadi. Mendadak banyak cenayang dadakan.

Hidup bukan hanya soal saat ini, tapi juga soal kemarin, sekarang, nanti atau esok. Dengan angkuhnya banyak yang menggurui dan bersimpul seperti tahu segalanya.

Aku setuju saat seseorang berkata aku tahu sekali tentangmu, justru orang tersebut tidak tahu apapun.

“I know you so well!”

“No, you know nothing about me!”

Demi hari kemarin, saat ini dan nanti, aku tak peduli tentang apa yang mereka mau untukku. Tapi inilah aku, dengan bebasku, dengan inginku, dengan mimpiku dan dengan usiaku yang baru.

Terima kasih diri, sudah menjadi sekuat ini 🙂

Love,

Yourself

Advertisements

Trip Semarang – Karimun Jawa #2

Selama perjalanan dari Semarang ke Jepara, mobil travel kami hanya berisi 5 penumpang untuk kapasitas mobil 16 penumpang. Bisa bangun tenda di dalam haha. Kondisi jalan Semarang – Jepara cukup jelek. Tapi Ana bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak bisa tidur dan setiap pemandangan jalanan SMG – JPR membuatku bernostalgia saat masih duduk di bangku SMA. Ya, aku bersekolah di kota Kudus yang pasti akan melewati jalan yang sama saat pulang atau pergi dari dan ke Jakarta. Tepat 10 tahun yang lalu aku meninggalkan kota Kudus…

Day 3 – Karimun Jawa

  1. Tiket KM Express Bahari Executive class: IDR 150,000/person/way (Ph. 0291 592999, Website : http://express-bahari.com/)
  2. Home stay RGJS: IDR 275,000/night include breakfast
  3. Sewa motor: IDR 75,000/day
  4. Snorkling+island hoping west area include lunch ikan bakar IDR 200,000/person

Perjalanan kurang lebih kami tempuh sekitar 2 jam. Kami turun tepat di depan gerbang pelabuhan Kartini. Sampai sana, ternyata loket tiket belum buka. Akan buka sekitar jam 08.30. Kami pun menunggu sambil mencari sarapan seadanya di sekitar situ. Jatuhlah pilihan kami pada chicken barbeque alias sate ayam. hahahaha.. Soale bule bule ki akeh seng gak mudeng Sate tapi kemecer ndelok aku mangan wkwkwkwkwk.

Sebelumnya tiket pergi dan pulang sudah kami beli via online. Ada tiga jenis kapal yang bisa membawa kita menuju pulau Karimun Jawa yaitu KMC Kartini, KMP Siginjai dan Express Bahari. Untuk schedule bisa browsing di google dan sesuaikan dengan waktu dan budget kalian. Kami memilih Express Bahari dengan harga paling mahal dianatar kapal lainnya. Alassannya karena soal waktu. Hehehehe. Harga untuk kelas Executive IDR 150,000 dan VIP IDR 180,000. Banyak agen yang menyediakan jasa pemesanan tiket.

Tapi kami membeli langsung ke KM Express Bahari dan ada 2 pilihan kota pemberangkatan, yaitu Semarang dan Jepara. Sekali lagi sesuaikan saja dengan schedule. Cara pemesanan tiket (ini info penting yang gak saya temukan dari info perjalanan Karimun Jawa di blog-blog lain) telepon dulu cabang Jepara kemudian lakukan pembayaran dan selanjutnya hasil scan tiket akan dikirimkan oleh petugas via email. Tukarkan bukti email tersebut dengan tiket asli di loket. Setelah aku observasi, banyak bule yang sudah membeli tiket dengan online di http://express-bahari.com/

whatsapp image 2019-01-08 at 15.52.20

Setelah 2 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di pelabuhan. Kami berjalan kurang lebih 1 km menuju penginapan. Saran saya, lebih baik memilih penginapan yang dekat dengan alun-alun karena pusat dari keramaian. Hiburan kami saat malam hanyalah cafe atau makanan seperti seafood di alun-alun. Kurang lebih 80% wisatawan Karimun Jawa adalah turis asing dari berbagai negara dan banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris. Kami jadi minoritas disana. hahaahaaa

Sebenarnya beberapa penginapan menyediakan antar jemput gratis. Termasuk penginapan kami. Hanya saja kami tidak tahu jika RGJS home stay menyediakan itu wkwkwkwkwk. Setelah check in, kami istirahat sebentar di kamar hotel. Harga cukup murah dengan fasilitas yang lumayan, kamar yang bersih, harum juga luas. Setelah cukup beristirahat, kami pergi keluar untuk survey harga island hoping and snorkling package di beberapa tempat. Meskipun sebenarnya penginapan kami juga menyediakan sewa motor dan island hoping+snorkling package. Keputusan kami akhirnya menyewa motor dan ambil paket snorkling and island hoping di RGJS di tempat kami menginap dengan tujuan ke area timur.

Sebenarnya kami ingin menginap di Bodhi Tree Homestay. Sumfah se-unyu itu tempatnya dan dekat dengan alun-alun. Sayangnya budget tidak sesuai dengan kami (lumayan mahal buat kita) dan tipe asrama nya juga campur male-female.

Untuk signal internet yang bekerja paling baik di Karimun Jawa adalah Telkomsel. Banyak makanan murah di Karimun Jawa jika mau mencari. Kebetulan kami bisa berbahasa jawa. Aku dengan aksen Jawa Tengah, dan Ana dengan aksen Jawa Timurnya. Sungguh sangat berguna untuk trip ini. Home stay owner membekali kami print out peta wisata. Oh ya, jangan lupa browsing tempat-tempat menarik di Karimun Jawa sebelum kesana. Sehingga kita bisa menghemat waktu dan tidak bingung di sana. Dengan sepeda motor sewaan, kami pergi ke Tanjung Gelam Beach di ujung pulau Karimun Jawa. Pretty nice yet full of food seller. Karena tempatnya yang lumayan masuk hutan dan nyempil, kami sempat kesasar. hehehehe…

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kami menjadikan tempat ini sebagai tempat foto-foto “di pantai” tanpa basah2an. Jadi siapkanlah outfit pantai yang cocok Wkwkwkwk. Selanjutnya, kami pergi ke bukit cinta untuk menikmati sunset. Searah dengan jalan pulang kami menuju penginapan. Tiket masuk hanya IDR 10,000 yang bisa di tukar sebagai diskon senilai harga yang sama untuk pembelian souvenir. Banyak spot narsis disini. Tapi buat saya, menikmati senja adalah yang utama. Di temani dengan segelas soda susu, music indie dan warna jingga kala itu, rasanya senja semakin sempurna. Kurang kamu saja disini. Baguuuuusssss bangeeeeettttttt. Banyak turis asing yang juga terlihat sangat kagum dengan sunset di Karimun Jawa. Aku bilang ke salah satu mereka, sunsetnya memang bagus, tapi kita biasa melihat sunset serupa di Indonesia; regular scenery for us. Namun menurut mereka terutama yang dari Eropa, mereka jarang melihat matahari tenggelam semerah, secerah, dan secantik itu. Kami pun tersenyum bangga dan berkata, “Well, this is my beautiful country”.

Karena hari sudah gelap, kami pergi ke penginapan untuk mandi dan istirahat. Sekitar jam 7 malam, kami pergi ke alun-alun untuk makan malam. Setelah parkir motor di pinggir alun-alun kami berkeliling untuk melihat rupa-rupa makanan yang di jual. Pilihan kami jatuh pada aneka kerang rebus dan mie ayam. Harganya sudah mirip dengan harga seafood kaki lima di Jakarta. Di alun-alun banyak juga pedagang yang menjual souvenir seperti asesoris dan pakaian. Terakhir kami membeli jagung bakar untuk teman minum teh di pantry yang tepat berada di atas laut.

Day 4 – Karimun Jawa

Snorkling time!

Pagi ini kami di antar ke pelabuhan untuk trip kami. Karena kita akan bermain air, lebih baik siapkan dry bag untuk wadah kamera, handphone, dan lain-lain. Ada 3 pasangan yaitu Aku dan Ana, Ema dan David dari Jerman dan Margarita dan suami dari Barcelona yang kami berempat panggil Mama-Papa. Di Pandu oleh Diki dan Kapten kapal yang masih muda, kami berenam di antar menuju spot pertama yaitu pulau menjangan kecil. Alam bawah lautnya bagus sekali. Sayang saya tidak bisa berenang, jadi pegangan terus ke tour guide. Hahahah. Bahkan dari atas laut kita sudah bisa melihat banyak sekali ikan dan terumbu karang yang bagus.

Ada sedikit masalah ketika kita sampai di spot snorkeling. Itu karena tour guide hanya menyebutkan nama pulau tapi tidak menyebutkan area Barat atau Timur. Hanya miscommunication. Rencana awal kami memang ke area Timur karena memang terkenal paling bagus. Namun ombak dari semalam cukup besar, dan angin lebih mengarah ke timur. Tidak ingin mengambil resiko, kapten kapal dan pemilik tour dari RJGS home stay memilih untuk pindah haluan ke arah barat yang diprediksi lebih aman. Namun mama-papa dari Barcelona merasa kecewa karena tidak di komunikasikan soal perubahan arah tersebut. Wajar mereka kecewa karena ternyata mereka adalah professional diver.

Di perjalanan kami berbincang dengan kapten kapal dan tour guide. Ternyata mereka sangat menaruh perhatian soal pariwisata sebagai daya jual daerah mereka. Mereka sangat menjaga kebersihan pulau dan satwa yang ada di Karimun Jawa. Contohnya adalah mereka melemparkan jangkar jauh dari pulau karena takut karang akan menjadi rusak. Mereka juga melarang wisatawan membawa pulang kerang, benda laut atau hewan laut. Ternyata pemerintah memberikan pelatihan kepariwisataan kepada warga dan pemuda pemudi di Karimun Jawa. Termasuk pelatihan Bahasa inggris untuk menjadi tour guide. Namun ada satu kekurangan, yaitu butuh pelatihan untuk pengelolaan sampah. Masih banyak spot dengan sampah bertebaran. Jadi kalau ada teman-teman yang membaca tulisan saya ini dan bekerja di instansi pemerintahan, komunitas pecinta lingkungan, atau mahasiswa dan dosen yang bisa memberikan pelatihan tentang pengelolaan dan pengolahan sampah dan limbah pasti akan sangat membantu untuk kelestarian dan pariwisata kepulauan cantik ini.

Hari kian terik, kami pun menuju ke pulau Cemara Kecil untuk makan siang. Sambil tour guide dan awak kapal menyiapkan makan siang kami yaitu ikan bakar, kami pun keliling pulau dan bermain di pantai. Beberapa berjemur dan beberapa masih snorkeling. Aku senang sekali karena airnya yang tenang dan banyak pohon cemara. Cantik sekali. Cukup untuk mengobati rindu dengan laut dan pantai setelah 2 tahun tidak ku sapa.

capture

Makanan kami telah siap, kami makan di pinggir pantai di bawah pohon cemara. Lauknya yaitu tumis tempe dan kacang panjang, ikan kakak tua bakar yang masih fresh, nasi putih, kerupuk dan 2 jenis sambal; sambal tomat+kecap dan sambal terasi. Terlihat bule-bule ini nambah dan makan dengan lahap menggunakan tangan. Wkwkwk… Kapan meneh koe podo mangan tanpa sendok. Mereka cukup kagum dengan kami yang makan dengan banyak sambal. Kami membicarakan tentang masing-masing rencana kami selanjutnya setelah dari Karimun Jawa. Beberapa mereka bertanya soal transportasi dan tempat yang harus mereka kunjungi. Oooh.. Indonesia is big, so many places I have to visit but not enough time. Aku terkekeh “It is..”. Mereka mulai merasa bosan dengan nasi dan mie. Lalu Ema bercerita dia pernah mencoba satu makanan yang enak “the one wrapped with banana leaf, and the aroma so good”. Aku dan Ana kompak menjawab “Ooooo lontong”. Lontong ae kok yo podo gumun dan merasa sangat sehat. Ku jelasin lagi ada banyak jenis nya lontong itu. Contohnya kalo lebaran kita makan ketupat. Isinya sama-sama dari berasa hanya saja dari daun kelapa. Ada juga lontong isi. Wkwkwk. Ternyata mereka juga cinta tempe. Terutama Ema yang ternyata vegan.

49549311_10205393401232585_8376075242480599040_n

Kamipun naik ke kapal untuk melanjutkan ke spot berikutnya. Namanya “Gosong” seperti daratan yang menonjol di tengah laut namun bukan pulau. Ternyata di dekat situ ada bangkai kapal karam “Takak Kapal Mati” namanya. Ombaknya cukup besar jadi aku tidak turun untuk berenang. Ombak yang agak besar juga membuat mereka yang berenang cepat merasa lelah. Ku lihat Ema naik ke kapal dan rebahan di gladak sampai tertidur. Capek banget katanya. Mama, papa, Ana, dan David masih asik berenang. Aku mengobrol dengan kapten kapal dan ayahnya tentang Karimun Jawa.

Setelah semua naik ke kapal, kami melanjutkan untuk menikmati sunset di pulau Cemara Besar. Cukup sepi dan cantic sekali pantainya. Ada daratan yang menonjol karena air sedang surut. Aktifitas yang kami lakukan adalah, berfoto, mencari bintang laut dan bermain pasir. Beberapa hanya tiduran dan tidur sungguhan seperti Ana. Kami pun berbincang lagi dengan mama papa dari Barcelona. Dia bertanya karakteristik orang Indonesia. Yang paling bisa ku jawab ya Jawa. Obrolan mengerucut kepada Bahasa Jawa yang digunakan. Aku menjelaskan Bahasa Jawa juga akan berbeda dialek di berbagai daerah di pulau Jawa. Juga Bahasa Jawa memiliki beberapa strata yang digunakan kepada orang-orang tertentu. Namun, Bahasa nasional kami adalah Bahasa Indonesia. Mereka pun belajar beberapa term Bahasa Indonesia. Mereka juga bertanya dimana kami belajar Bahasa Inggris. Ku bilang dari sekolah dan belajar sendiri dari praktek ke teman yang orang asing atau dari film. Di Indonesia juga ada yang namanya kampung Inggris di Pare Kediri Jawa Timur dimana banyak orang dari seluruh Indoensia datang untuk belajar Bahasa Inggris.  Koe ora retiii aku struggling sinau keminggris neng Pare ben iso ngomong karo bule koyok koe. Wkkwkwkw.

Hari sudah hampir gelap. Kamipun bertolak pulang. Sesampainya di dermaga, kami menunggu mobil jemputan dari homestay. Ema dan David memilih jalan kaki padahal kami satu tempat penginapan. Kami dan mama papa menunggu mobil jemputan saja karena malas jalan kaki. Hahahah.. sambil menunggu saya melihat mama dan papa merasa kedinginan dan tidak enak badan. Aku ingat aku membawa tolak angin. Ku berikan saja kepada mereka. This is one of a modern herbal from Indonesia. Kamu bawa ini dan tanya saja di warung-warung atau minimarket, pasti mereka menjual ini. Saya yakin kamu akan merasa lebih baik setelah minum ini. Oh I’ve tried herbal drink in Thailand. Mama bilang begitu. Ku timpali dengan “But this is cheaper and many people believe this is much better than medicine”. Akhirnya mereka bilang thank you very much and so much nice to meet you.

Di perjalanan menuju penginapan, papa yangtidak bisa berbahasa inggris bertanya mengapa orang Karimun Jawa jahat karena memotong ekor kucing sampai kucing-kucing disini ekornya pendek, kita tuh punya peliharaan anjing, jadi kalua lihat hewan digituin tuh sebel.. Aku bengong dong dengan pertanyaan itu. Tapi kemudain aku tertawa. “oh kalian salah persepsi. Di Indonesia memang banyak kucing yang mempunyai ekor pendek dan itu genetic. Aku ngoceh dewe “lah kurang kerjaan banget motongi buntute kucing”. Akhirnya keresahan mereka terjawab sudah. Mereka tertawa mendengar jawabanku.

Setelah sampai di penginapan, kami pergi mandi. Aku mencuci pakaianku karena malas membawa pakaian kotor di koper. Tadinya aku berencana untuk laundry saja. Tapi ternyata tidak ada di Karimun Jawa. Setelah kami semua mandi, kami pergi ke alun-alun untuk makan malam. Kami putuskan untuk makan nasi goreng yang enak ternyata. Para bule dari manapun suka. Aku menumpahkan air jeruk hangat yang aku pesan. Dengan terpaksa aku harus mencuci baju lagi. Karena kami tidak menyewa motor lagi, kami pulang dengan berjalan kaki. Mampirlah kami ke sebuah warung untuk membeli gorengan dan kopi sachet. Karena kami masih merasa lapar.

Day 5 – Karimun Jawa – Jepara

Hari terakhir kami di Karimun Jawa. Kami berniat ingin menjelajah pulau dan bukit sebelum bertolak menuju pelabuhan Kartini, Jepara.

Setelah sarapan dengan pemandangan laut luas dan debur ombak yang menghantam bebatuan disekitar hostel sebagai backsoundnya, kami berniat menyewa motor lagi ke pemilik penginapan. Tapi beliau malah menawarkan kami ke penangkaran hiu yang padahal sedang tutup entah karena apa. Tentu saja kami mau karena itu salah satu icon dari Karimun Jawa.

Tempatnya cukup dekat namun berada di seberang pulau tempat kami menginap. Kami ditawari untuk berenang dan berfoto dengan baby shark alias hiu-hiu di penangkaran. Tentu saja hiu nya masih anak-anak atau remaja. Ada beberapa kolam yang tersedia. Kami memilih kolam paling tengah yang banyak hiunya. Adrenalinnya makin terasa ketika anggota tubuhmu tersenggol badan hiu yang berenang.

Tiba-tiba ada kapal polisi yang merapat ketempat kami. Mereka mengobrol dengan awak di penangkaran. Ternyata penangkaran ini juga tersedia kamar untuk menginap. Namun sekarang sedang tidak beroperasi entah karena apa.

49721849_10205393407632745_3688007740409511936_n

Kami cukup beruntung karena banyak wisatawan yang tidak bisa kesana namun kami malah mendapatkan kesempatan itu.

Jam 11 kami diantarkan dan dijemput oleh pemilik homestay kami. Kemudian kami mampir untuk makan siang di suatu warung. Ternyata pemilik warung adalah juga pemilik salah satu penginapan yang ingin kami pilih namun urung karena ada fasilitas yang kurang kami sukai. Ternyata beberapa turis asing juga sudah tinggal lama di Karimun Jawa sekitar sebulan dan bahkan lebih.

Setelah makan kami kembali ke penginapan untuk bersiap ke pelabuhan. Kami (Aku, Ana, Ema dan David) diantar oleh mobil dari home stay. Ternyata jadwal kapal kami sama. Butuh waktu kurang dari 10 menit untuk sampai di pelabuhan. Siang itu pelabuhan cukup padat karena ada kapal yang akan bertolak ke pelabuhan Kartini.  Ternyata kami belum print boarding pass karena kami piker tempatnya akan sama di pelabuahn juga. Untuk saja kami diantar dengan mobil. Aku dan Ema pun pun bergegas untuk check in kemudian kembali ke Pelabuhan.

Ternyata ombak memang sedang besar. Aku lupa membawa antimo dan berakhir dengan mabuk laut. Aku pun melihat beberapa turis asing teapr dan terlihat pusing karena ombak yang besar. untung saja hanya 2 jam perjalanan.

Setelah turun dari kapal, kami memutuskan untuk mengunjungi museum RA Kartini di depan alun-alun Jepara. Sambil menunggu jemputan travel Ana untuk ke Semarang kami duduk-duduk didepan alun-alun dan menemukan jajanan leker yang sangat terkenal. Cukup dengan IDR 6000 saja dengan isi sayuran dan telur sudah membuat bahagia. Akhirnya kamipun berpisah di alun-alun dan aku bertolak menuju rumah temanku untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan menuju kota Kudus yang aku rindukan esok harinya.

 

 

 

 

 

Trip Semarang – Karimun Jawa #1

Akhir Agustus lalu aku mendapatkan kesempatan untuk “istirahat” setelah resign dari kantor. Aku sudah merencanakan untuk liburan ke Bali dan lanjut ke NTB dengan tujuan utama Labuan Bajo. Tapi sayang sekali sedang terjadi gempa yang berpusat di Lombok. Sempat ingin menunggu seminggu kedepan lagi, tapi akhirnya keputusanku bulat untuk tidak kesana dengan alasan “pasti tidak dapat restu” dari orangtua. #tsaaaaah.. Mamak ngomel hayati pusiang. wkwkwkwk

Pindah haluan menuju Karimun Jawa yang kebetulan memang belum pernah kesana. Aku merencanakan pergi bersama Kiki kawanku dari Aceh yang sedang kuliah di Yogya. Tapi ternyata dia berhalangan meskipun rencana sudah mulai matang. Akhirnya aku mengajak Ana, teman kantor lama yang kebetulan anaknya gak rempong. Well, ini penting. Teman traveling yang ideal adalah yang gak rewel dan easy going. Kebetulan ini akan menjadi trip ke 3 bersama Ana. Sempat buka pengumuman di group2 Whatsapp maupun di Instagram untuk gabung di trip ini. Beberapa tertarik meskipun akhirnya berguguran juga. Singkat cerita, dengan Ana saja. Koe meneh Koe meneh sis..

Agustus lalu kami didera deadline kerjaan yang bikin teler. Aku di hadang 4 project research yang harus kelar sebelum aku resign. Jadi sempat terbengkalai cari-cari info untuk trip Karimun Jawa ini. Lalu mufakatlah kita untuk stay in di Semarang satu hari. FYI, kita atur semuanya sendiri tanpa jasa trip. Alasannya, aku pribadi malas di atur-atur dan ingin merasa lebih bebas. Kami pun gak pake baper-baperan siapa yang harus cari info. Karena kita sadar sama-sama sibuk, sama-sama butuh liburan. Jadi sempat gak sempat teteup cari info. Tapi saya beruntung karena Ana berperan besar untuk masalah akomodasi. Kami pun akhirnya menyempatkan makan siang singkat di weekend untuk mengatur kesepakatan trip. Pilih tranportasi, penginapan, pertiketan dan sebagainya.

Packing

  1. Tas kecil untuk isi dompet, hp, dan kamera
  2. Pakaian ganti. Bawa yang nyaman dan secukupnya (jangan lebay). Termasuk baju tidur
  3. Baju renang dan perlengkapannya
  4. Outer tipis (kepake banget buat setelah renang dan cadangan baju karena cepat kering)
  5. Jaket (terutama yang gampang masuk angin kayak aku wkwkwk
  6. Skincare, parfum, dan alat mandi (pindahin ke wadah-wadah kecil yang bisa beli di miniso atau toko asesoris)
  7. Sunblock (karena gw rewel kalo gosong hahaha)
  8. Topi pantai (biar gak gosong dan bisa jadi properti foto hahaa)
  9. Sun glasses (kaca mata hitam)
  10. Dompet, uang tunai dan kartu identitas
  11. Alas kaki (sesuaikan dengan kebutuhan trip)
  12. Handuk kecil
  13. Kain pantai (optional)
  14. Powerbank (baca2 blog orang, Karimun kalo siang gak ada listrik. ternyata sekarang bisa pasang AC malah wkwkwk)
  15. Obat-obatan pribadi
  16. Kamera dan peralatannya (aku bawa pujiati si mirrorless kesayangan. Sempet bingung mau bawa 2 lensa, tapi gak jadi karena sudah ada HP)
  17. Dry bag (penting untuk yang liburannya main di air)
  18. Tas carrier atau koper. Aku pakai koper karena malas menggendong tas. Cuma itu. Hahahaa

Trip pun di mulai….

Day 1. Kamis 23 Agustus 2018 – JAKARTA

  • Berangkat Stasiun Senen: Kereta ekonomi harga IDR. 140,000

Sengaja pilih kereta malam jam 23.00 supaya bisa tidur dan hemat tenaga. Kebetulan Ana masih kerja. Jadi bisa hemat cutimu juga.

Day 2 . Jumat 24 Agustus 2018 – SEMARANG

  • Tiba di stasiun semarang poncol dan menggunakan grab car menuju hotel IDR 6000 (isilah Go pay atau Grab pay supaya lebih efisien)
  • Sleep and Sleep capsule hotel seharga IDR 70,000/night/person
  • Sewa motor IDR 85,000 di antar dan jemput ke tempat. (Ph. 081 222 102 602)
  • Sam Poo Kong IDR 25,000/tiket. Kalau tiket biada hanya IDR 10,000
  • Lawang sewu IDR 10,000/tiket
  • Alloy travel to Jepara IDR 50,000/orang (Ph. 0811 2556 111)

Karena baru bisa check in siang jam 14.00, kita putuskan cuci muka, gosok gigi dan touch up di stasiun.  Jadi selama di Semarang kita belum mandi. Untung kece dari lahir #muntahpelangi. Order grab car untuk menuju penginapan. Kita menginap di capsule hotel karena memang hanya dipakai tidur saja, besok pagi harus berangkat ke Jepara. Semua reservasi dilakukan jauh sebelum berangkat ya. Setelah menitipkan barang, kita janjian dengan penyewaan motor di hotel. Jangan lupa bawa KTP dan SIM untuk ditahan sebagai jaminan sewa kendaraan. Untuk optional, kalau kita gagal sewa motor, kita akan pakai grab yang akan spent kurang lebih IDR 150,000 untuk berdua. Alhamdulillah den gan kenekatan dan kemampuan negoisasi yang lumayan, kita berhasil bawa motor. Hehehehehehe… Penting nih kemampuan negoisasi dipakai saat trip begini. Termasuk “ketenangan sikap” saat trip supaya gak di kasih harga lebih mahal dan berprilakulah selayaknya akamsi “anak kampung sini” alias warga lokal sebisa mungkin. *Tink

Sebelum ngebolang di Semarang, kita sepakat untuk deposit buat trip ini masing2 beberapa ratus ribu untuk oprasional beli makan, ngopi, tiket wisata, sewa motor, bensin, parkir dan pengeluaran tak terduga lainnya. Aku yang atur uangnya. Dimanapun dengan siapapun sering banget aku yang jadi bendahara hahaa..

Bermodalkan google maps, kami berangkat keliling Semarang. Banyak yang komentar, emang gak takut nyasar? Gak bingung tidur dimana? Kawan-kawan, teknologi udah canggih salah satunya bernama Google dan kita bisa bertanya supaya tidak sesat di jalan #halah!

Destinasi pertama adalah sarapan yang khas tapi searah untuk tujuan selanjutnya. Kalau mau cicip makanan khas, aku saran lebih baik tidak perlu terlalu memikirkan budget untuk makan, asalkan tidak berlebihan. Selanjutnya kita pergi ke Sam Poo Kong. Disinilah drama pertama di mulai. jeng jeng jeng jeng…

06162523.jpg

Drama #1

Cekrak cekrek objek, selfie, lepas sendiri-sendiri buat motret. Tiba-tiba layar kamera bilang “memori abis”. Wah ternyata aku lupa memasukkan memori ke kamera. Hahahhaha.. sempet Bete karena kecerobohan sendiri. Aku bongkar tas barangkali jatuh atau apa. Tapi nihil dan Ana cuma ngakak. “Pokoknya kita beli memori ya Na”. Tapi ternyata kita masih lanjut foto-foto bangunan lainnya di Sam Poo Kong. Hahaha seloooowww banget…

Tujuan selanjutnya adalah kampung pelangi. Karena lokasinya tidak jauh dari Sam Poo Kong. Semacam Jodipannya Malang. Cuma penasaran aja sih dan numpang ngadem. Selayaknya kampung yang di cat warna warni. Hanya saja kita amaze dengan mbah-mbah yang tinggalnya di atas kalau mau turun ke bawah. Karena ternyata cukup tinggi. Kampung pelangi merupakan gagasan dari (kalo gak salah) walikota semarang untuk menjadikannya salah satu destinasi wisata. Cat yang di berikan juga berasal dari pemerintah. (Hasil kepo ke bapak penjaga warung di sana sambil mimik teh pucuk).

Drama #2

Destinasi selanjutnya tentu saja ke mall (lupa namanya) buat beli memori card. Tapi berkali-kali muter2 karena salah belok dan banyak jalan satu arah. Akhirnya tiap toko elektronik yg jual komputer kita berhenti. Sampai menemukan rekomendasi toko khusus kamera dari salah satu penjaga toko yang kita kunjungi. Sampai disana ternyata harganya mahal IDR 175,000/16GB. Mau gak mau beli lah. Waktu mau bayar sadar dompet yg isinya hanya kartu-kartu atm dan e-money gak ada. Hahahaaa… tapi aku bersyukur KTP dan NPWP dipakai buat jaminan motor. Fyuuuuhhhh…. sedikit lega. Kebetulan restleting tas memang agak rusak. Akhirnya Ana nalangin dulu sambil aku telpon CS bank-bank untuk blokir ATM. Sudah pasti selanjutnya adalah Bank BCA, buat bikin ATM baru. Mbak CS nya cantik dan mau membantu banget. Jadi merasa lebih tenang… 10 menit beres. Keluar dari Bank kita berdua ngakak. Pokoknya kalo lagi ada masalah gak usah panik. Kalau satu panik, yang lainnya harus tenang dan berkepala dingin. Di pikir karo mangan soto wae sis..

Semarang lagi super panas. Kaki sudah belang, badan sudah beruap. Kita memutuskan melipir makan di daerah semarang tengah karena sudah masuk jam makan siang. Saat kami sedang makan, tiba-tiba teman di Jakarta telpon kalau ada orang yang menemukan dompetku di Sam Poo Kong. Dia di telpon karena kartu namanya kusimpan di dompet. Lalu aku dan Ana ngakak lagi mengingat perjalanan kita yang baru beberapa jam di Semarang. Kamipun menyelesaikan makan siang sambil streaming Asian Games. Jojo sedang bertanding qaqaa…

Kamipun kembali dipanggang panasnya Semarang demi kembali ke Sam Poo Kong.  Fyuuuuhh…  thowaf di Semarang

06162856.jpg

Next destination pastinya Lawang Sewu. Begitu masuk langsung cari Mushola. Setidaknya saat keliling sudah dalam keadaan berwudhu hehehe. Cekrek sana sini dan ketawa ketiwi. Sempat merasa gerah dan mata kocar kacir kesana kemari karena mulai “terasa” tapi cuek aja. Saat menuju lantai atas bagian atap, saya gak kuat berlama-lama. Terasa gelap dan penuh. Akhirnya turun sendirian. Kebetulan di bawah gak ada siapapun. Ngeri-ngeri sedep gitu, aku memutuskan mulai bikin “benteng”. Setelah lelah mengelilingi bangunan, kita duduk di kursi taman, sampai akhirnya beberapa remaja usia anak kuliah semester 3 datang minta foto bareng. Ana bilang OK. Ana kira mereka minta tolong ambilkan foto, eh ternyata mereka minta berfoto dengan kita. Males sih… tapi yasudahlah. Entah kenapa magnet remaja selalu melekat (aku kelingan bocah-bocah Pare). Kali ini aku bersikap tenang, eh justru Ana yang panik. “Kalau foto kita di salah gunakan gimana Al?” Sekarang gantian aku yang ketawa liat dia panik. Wkwkwk

Perjalanan selanjutnya adalah kawasan kota lama. Tapi sayang akses jalan banyak yang sedang di perbaiki. Membuat kita agak bingung untuk hunting foto. Sekitar 1 jam kita habiskan waktu. Duduk di taman Srigunting. Petualangan seru di semarang di akhiri dengan kuliner lumpia basah Mbak Lin yang buat kita rasanya “Yo ngono kui”.

YDXJ0057.jpg

#Drama 3

Malam itu tak lupa kami mengabari travel kami yang akan membawa kami ke pelabuhan Kartini Jepara besok subuh. Semua sudah booking sebelum trip di mulai. Tadinya kita akan naik bus ngeteng dari Terminal Terboyo. Kebetulan aku sudah pernah. Tapi demi efisiensi dan menghemat tenaga (karena jalanan Semarang-Jepara jelek banget) kami putuskan pakai travel.

Jam 4.00 pagi kami bangun dan bersiap ke meeting point penjemputan travel. Karena sebelum tidur kami sudah mandi bahkan rambut masih basah, kami putuskan tidak mandi. Sambil menunggu, saya iseng cek koper. Ternyata koper macet. Entah karena terburu-buru jadi kombinasi tidak pas atau mungkin memang macet. Ternyata drama belum berakhir sodara hahahaha. Kuncinya tetap tenang. Lihat tutorial via YouTube atau baca artikel tips cara buka koper yang lupa kombinasinya atau macet. Belum tamat baca artikel dan nonton YouTube tiba2 jemputan sudah datang. Lalu berangkatlah kami menuju Jepara. Soal koper, dipikir engko meneh karo turu. Hahahahaa seloooooww tenan…

Pada satu titik

Tibalah aku pada satu titik, dimana aku bisa membiarkanmu berbicara dan aku mendengarkan

Tibalah aku pada satu titik, dimana ada seka tipis antara garis khayal dan kebenaran

Tibalah aku pada satu titik, dimana garis batas telah menguburkan segala yang harus terucap

Tibalah aku pada satu titik, dimana ribuan hari kurapali segala puisimu, tawamu, sedihmu, dan racaumu

Tibalah aku pada satu titik, dimana berkali-kali kupastikan namun semakin keliru

Segala rasanya tak pernah berubah, berderit semakin kencang, semakin sesak merajuki batinku yang sengau

Tibalah aku pada satu titik, dimana harus ku lampaui batas, seka dan akui bahwa aku mencintaimu lebih dari kemarin

MOVE ON

MOVE ON: General words meaning to leave a place:leave, move on, go away… to stop discussing or doing something and begin discussing or doing something different. Source: https://www.macmillandictionary.com/dictionary/british/move-on

Move on sebenarnya adalah hal yang general. Tapi kali ini pembahasannya berkaitan dengan relationship. Kata-kata ini terbang dikepalaku dan kuputuskan untuk menuliskannya saja supaya ku bisa tidur nyenyak dan bisa bangun sahur nanti.

Tik Tok Tik Tok.. Sudah lewat tengah malam. Oh Night! Let me finish pouring my thought!

Move on buka perkara mudah untuk sebagian orang. Fokusmu masih tertuju pada satu hal; entah dia, entah kenangannya. Bisa jadi keduanya. Move on bukan perkara melupakan. Kecuali kau benar-benar hilang ingatan. Memilih pergi, memilih meninggalkan, memilih berhenti untuk melakukan atau membicarakannya begitu menurut kamus online. Namun satu yang akhirnya aku sadar, bahwa move on adalah soal kesadaran untuk menghargai diri sendiri. Kita sering terlupa bahwa kita juga berhak bahagia.

Terlalu sibuk untuk melupakan, pergi sejauh mungkin atau mengalihkan pikiran, dan terlalu sibuk mengkhawatirkan kebahagiaan orang lain hingga lupa diri sendiri pun berhak bahagia. Aku paham bahwa bahagia itu relative. Tapi aku juga percaya bahwa bahagia itu di ciptakan. Bagaimana kita bisa menciptakan bahagia jika kita lupa bahwa kita juga perlu penghargaan dari diri sendiri?

Mungkin ini juga saatnya untuk merenung tentang mereka yang diam-diam justru menyayangimu, lebih memahamimu, mencintaimu dan merasa bersyukur kau ada di hidup mereka meskipun tidak pernah kau dengar suaranya.

Satu kesimpulannya, terkadang kita harus berhenti untuk memikirkan sesuatu yang melelahkan seperti merapal masa lalu. Karena hal yang lebih bermanfaat adalah menciptakan bahagia dari menghargai diri sendiri. Di mulai darimana? Dari berdamai dengan diri sendiri. Enjoy the process. No body’s perfect! Nothing instant! And the last is find yourself!

Selamat berbahagia wahai diri!

Jakarta, 2 Juni 2018

 

 

 

PULANG

 

DSCF9298

Matahari beriring cahaya beradu langit kota yang sendu. Pendarnya masih sama, pun debarnya.

Ada alasan Baskara menjongkah bumi yang damai ini, untuk menjadi senja. Jerumai jingga dimana kita pernah saling ada dalam kesunyian pada masing-masing batin yang saling pulang. Pun kalah pada masing-masing ambisi masa muda yang songar. Kita sama-sama lelah pada permainan ego nan rumpil. Hingga semiang ceritamu, ceritaku. Sudahilah jelaga nafas yang berjela. Heninglah pada guguh batinmu yang berbicara. Karena kita sama-sama tahu, hanya pada jingga senja kita saling berpulang.

di langit senja Yogyakarta, 10 Maret 2018

 

 

Batas, Jarak dan Rindu

Bertaut pada batas yang memisahkan logika dan emosi, merentangkan jarak pada setiap tempat dimana pernah ada kita.

Bukan 520 km apalagi 1264 km bentang antara hela nafas dan ambisi muda kita. Tapi perihal batas yang menciptakan jarak antara hati dan rindu. Perihal kau kelabui rona senja pada bibir jingga di ujung kata.

Sungguh menunggu tak pernah seperih ini. Seperti rindu bergayut biru. Tak pendar ditelan pudar. Biarkan kureguk rasanya seperti segelas kopi yang kau minum seperti air. Hilang kantukmu, hilang dahagamu. Tapi hilangkah rindumu setelah kau usap jemari cemasku.. Maka sapalah sekali lagi. Barangkali kecut hatimu bak sebongkah rindu yang mencair, hanyut dan berlabuh

Aku tak butuh Rangga apalagi Dilan. Aku cuma mau kamu..

 

Jakarta, 12 Februari di batas antara kemarin, hari ini dan esok

Dialog 28 Tahun

Kita tidak pernah tahu bagaimana esok. Sedikit banyak merapal masa lalu.

Februari, bulan hujan. Aku tak berharap 4 Februariku akan seindah tahun lalu. Bila hujan, biarlah hujan. Bila sendiri biarlah sendiri. Takbisa lagi aku muluk-muluk meminta seperti bahagiaku di 4 februari 2017. Tapi bohong juga aku tak berharap. Khawatir aku tak bertambah satu tahun depan.

Aku belajar bahwa mencintai orang lain lebih mudah daripada mencintai diri sendiri. Alvie belajar tersenyum di cermin. Berdialog pada diri sendiri untuk mencintai. Bukankah diri juga perlu bercengkrama solitaire. Menghargai keberadaan diri, menghargai bahwa setidaknya Ibu ku masih bersyukur dan berniat membuatkanku nasi kuning yang akhirnya ku cegah khawatir Ia lelah.

Memang kadar kasih orang berbeda. Ada yang sangat bersyukur untuk memilikimu. Terkadang kau sangat bahagia seseorang ada dalam hidupmu. Entah sebagai keluarga, teman, sahabat atau kekasih. Tapi effortnya bisa jadi tak sama. Maka dari itu, bersabarlah diri, hidup penuh kejutan, hidup penuh tipu daya, tapi hidup juga penuh cinta. Kau hanya belum menemukan yang seirama. itu saja.

Sungguh tahun yang berat, meskipun ada hal lain yang melesat.

Tuhan, terima kasih satu tahun lagi kau beri sempat. Izinkan hamba jadi lebih giat.

Tuhan, kali ini doaku sederhana tapi aku tahu ini berat; hadiahilah aku ikhlas atas segala ceritamu, dan sisa doaku biarlah aku dan Engkau yang tahu.

Sungguh hidup memang aneh. Seperti aku yang mulai menyukai gelato rasa kembang; Rose Petals dan Blueberry Lavender . Terima kasih diri, sudah menjadi kuat dan mengerti. Semoga bertemu tahun depan dengan kejutan yang luar biasa lagi. Supaya bisa ku sebut 4 Februari sebagai ulang tahunku, hariku.

IMG_20180205_200611

Sehari setelah ulang tahunku ke 28

di Secret Gelato, Cikini 2018.

 

Kisah Jingga dan Baskara

DSCF3222

Kali ini badai yang Jingga hadapi rasanya luar biasa. Ini lebih sulit dari badai pasir lalu.  Badai rindu ini tak kunjung tuntas, karena Ia hadapi sendiri kali ini. Bagaimana meredakan badai kerinduan? Tanyanya bingung. Segala resah dan kebahagiaan yang Baskara ciptakan adalah untuknya sendiri. Anehnya Jingga justru ikhlas. Diterimanya Baskara yang begini, Baskara yang begitu. Tapi bukankah jungkat jungkit tidak pernah bergerak jika berat sebelah?!

aSekali lagi Jingga bingung. Diakah yang justru hanya perlu berjalan mengentas menyelamatkan batinnya?

Menerima bahwa mungkin Jingga tidak pernah berada pada miampi Baskara sungguh sulit. Tidak pernah ada orang yang menyentuh batinnya begitu dalam. Tidak pernah ada orang yang membuat Jingga merekahkan senyumnya sebahagia itu. Tidak pernah ada yang membuat Jingga merasa dilindungi sehangat itu. Tidak pernah ada orang lain yang membuatnya merasa utuh. Tidak pernah ada yang membuat keresahan Jingga seolah semua baik-baik saja. Hanya Baskara yang bisa.

Tapi Baskara juga yang telah membuat Jingga kehilangan ronanya. Jingga meredup di kecup sedih. Pijarnya pudar karena Baskara tak pernah melihat Jingga seperti Jingga melihat Baskara. Baskara tak memahami Jingga seperti Jingga memahaminya. Tak pernah sekalipun Jingga meragukan seorang Baskara. Karena tidak ada tempat untuk keraguan itu sendiri.

Kini jingga harus berhenti menunggu. Musim hujan telah tiba. Air dari langit perlahan mulai menghapus rona cinta antara Jingga dan Baskara. Senyum Jingga hambar papar. Jingga masih sembunyi di balik payung hitam berlindung dari Baskara.

Jika musim panas datang, Jingga hanya perlu diyakinkan untuk tetap mau berjumpa dan bersama Baskara agar biasnya kembali berpendar cantik. 

Karena Jingga tahu tidak ada tempat untuk keraguan..

Blog at WordPress.com.

Up ↑