Trip Semarang – Karimun Jawa – Kudus #1

Akhir Agustus lalu aku mendapatkan kesempatan untuk “istirahat” setelah resign dari kantor. Aku sudah merencanakan untuk liburan ke Bali dan lanjut ke NTB dengan tujuan utama Labuan Bajo. Tapi sayang sekali sedang terjadi gempa yang berpusat di Lombok. Sempat ingin menunggu seminggu kedepan lagi, tapi akhirnya keputusanku bulat untuk tidak kesana dengan alasan “pasti tidak dapat restu” dari orangtua. #tsaaaaah.. Mamak ngomel hayati pusiang. wkwkwkwk

Pindah haluan menuju Karimun Jawa yang kebetulan memang belum pernah kesana. Aku merencanakan pergi bersama Kiki kawanku dari Aceh yang sedang kuliah di Yogya. Tapi ternyata dia berhalangan meskipun rencana sudah mulai matang. Akhirnya aku mengajak Ana, teman kantor lama yang kebetulan anaknya gak rempong. Well, ini penting. Teman traveling yang ideal adalah yang gak rewel dan easy going. Kebetulan ini akan menjadi trip ke 3 bersama Ana. Sempat buka pengumuman di group2 Whatsapp maupun di Instagram untuk gabung di trip ini. Beberapa tertarik meskipun akhirnya berguguran juga. Singkat cerita, dengan Ana saja. Koe meneh Koe meneh sis..

Agustus lalu kami didera deadline kerjaan yang bikin teler. Aku di hadang 4 project research yang harus kelar sebelum aku resign. Jadi sempat terbengkalai cari-cari info untuk trip Karimun Jawa ini. Lalu mufakatlah kita untuk stay in di Semarang satu hari. FYI, kita atur semuanya sendiri tanpa jasa trip. Alasannya, aku pribadi malas di atur-atur dan ingin merasa lebih bebas. Kami pun gak pake baper-baperan siapa yang harus cari info. Karena kita sadar sama-sama sibuk, sama-sama butuh liburan. Jadi sempat gak sempat teteup cari info. Tapi saya beruntung karena Ana berperan besar untuk masalah akomodasi. Kami pun akhirnya menyempatkan makan siang singkat di weekend untuk mengatur kesepakatan trip. Pilih tranportasi, penginapan, pertiketan dan sebagainya.

Packing

  1. Tas kecil untuk isi dompet, hp, dan kamera
  2. Pakaian ganti. Bawa yang nyaman dan secukupnya (jangan lebay). Termasuk baju tidur
  3. Baju renang dan perlengkapannya
  4. Outer tipis (kepake banget buat setelah renang dan cadangan baju karena cepat kering)
  5. Jaket (terutama yang gampang masuk angin kayak aku wkwkwk
  6. Skincare, parfum, dan alat mandi (pindahin ke wadah-wadah kecil yang bisa beli di miniso atau toko asesoris)
  7. Sunblock (karena gw rewel kalo gosong hahaha)
  8. Topi pantai (biar gak gosong dan bisa jadi properti foto hahaa)
  9. Sun glasses (kaca mata hitam)
  10. Dompet, uang tunai dan kartu identitas
  11. Alas kaki (sesuaikan dengan kebutuhan trip)
  12. Handuk kecil
  13. Kain pantai (optional)
  14. Powerbank (baca2 blog orang, Karimun kalo siang gak ada listrik. ternyata sekarang bisa pasang AC malah wkwkwk)
  15. Obat-obatan pribadi
  16. Kamera dan peralatannya (aku bawa pujiati si mirrorless kesayangan. Sempet bingung mau bawa 2 lensa, tapi gak jadi karena sudah ada HP)
  17. Dry bag (penting untuk yang liburannya main di air)
  18. Tas carrier atau koper. Aku pakai koper karena malas menggendong tas. Cuma itu. Hahahaa

Trip pun di mulai….

Day 1. Kamis 23 Agustus 2018 – JAKARTA

  • Berangkat Stasiun Senen: Kereta ekonomi harga IDR. 140,000

Sengaja pilih kereta malam jam 23.00 supaya bisa tidur dan hemat tenaga. Kebetulan Ana masih kerja. Jadi bisa hemat cutimu juga.

Day 2 . Jumat 24 Agustus 2018 – SEMARANG

  • Tiba di stasiun semarang poncol dan menggunakan grab car menuju hotel IDR 6000 (isilah Go pay atau Grab pay supaya lebih efisien)
  • Sleep and Sleep capsule hotel seharga IDR 70,000/night/person
  • Sewa motor IDR 85,000 di antar dan jemput ke tempat. (Ph. 081 222 102 602)
  • Sam Poo Kong IDR 25,000/tiket. Kalau tiket biada hanya IDR 10,000
  • Lawang sewu IDR 10,000/tiket
  • Alloy travel to Jepara IDR 50,000/orang (Ph. 0811 2556 111)

Karena baru bisa check in siang jam 14.00, kita putuskan cuci muka, gosok gigi dan touch up di stasiun.  Jadi selama di Semarang kita belum mandi. Untung kece dari lahir #muntahpelangi. Order grab car untuk menuju penginapan. Kita menginap di capsule hotel karena memang hanya dipakai tidur saja, besok pagi harus berangkat ke Jepara. Semua reservasi dilakukan jauh sebelum berangkat ya. Setelah menitipkan barang, kita janjian dengan penyewaan motor di hotel. Jangan lupa bawa KTP dan SIM untuk ditahan sebagai jaminan sewa kendaraan. Untuk optional, kalau kita gagal sewa motor, kita akan pakai grab yang akan spent kurang lebih IDR 150,000 untuk berdua. Alhamdulillah den gan kenekatan dan kemampuan negoisasi yang lumayan, kita berhasil bawa motor. Hehehehehehe… Penting nih kemampuan negoisasi dipakai saat trip begini. Termasuk “ketenangan sikap” saat trip supaya gak di kasih harga lebih mahal dan berprilakulah selayaknya akamsi “anak kampung sini” alias warga lokal sebisa mungkin. *Tink

Sebelum ngebolang di Semarang, kita sepakat untuk deposit buat trip ini masing2 beberapa ratus ribu untuk oprasional beli makan, ngopi, tiket wisata, sewa motor, bensin, parkir dan pengeluaran tak terduga lainnya. Aku yang atur uangnya. Dimanapun dengan siapapun sering banget aku yang jadi bendahara hahaa..

Bermodalkan google maps, kami berangkat keliling Semarang. Banyak yang komentar, emang gak takut nyasar? Gak bingung tidur dimana? Kawan-kawan, teknologi udah canggih salah satunya bernama Google dan kita bisa bertanya supaya tidak sesat di jalan #halah!

Destinasi pertama adalah sarapan yang khas tapi searah untuk tujuan selanjutnya. Kalau mau cicip makanan khas, aku saran lebih baik tidak perlu terlalu memikirkan budget untuk makan, asalkan tidak berlebihan. Selanjutnya kita pergi ke Sam Poo Kong. Disinilah drama pertama di mulai. jeng jeng jeng jeng…

06162523.jpg

Drama #1

Cekrak cekrek objek, selfie, lepas sendiri-sendiri buat motret. Tiba-tiba layar kamera bilang “memori abis”. Wah ternyata aku lupa memasukkan memori ke kamera. Hahahhaha.. sempet Bete karena kecerobohan sendiri. Aku bongkar tas barangkali jatuh atau apa. Tapi nihil dan Ana cuma ngakak. “Pokoknya kita beli memori ya Na”. Tapi ternyata kita masih lanjut foto-foto bangunan lainnya di Sam Poo Kong. Hahaha seloooowww banget…

Tujuan selanjutnya adalah kampung pelangi. Karena lokasinya tidak jauh dari Sam Poo Kong. Semacam Jodipannya Malang. Cuma penasaran aja sih dan numpang ngadem. Selayaknya kampung yang di cat warna warni. Hanya saja kita amaze dengan mbah-mbah yang tinggalnya di atas kalau mau turun ke bawah. Karena ternyata cukup tinggi. Kampung pelangi merupakan gagasan dari (kalo gak salah) walikota semarang untuk menjadikannya salah satu destinasi wisata. Cat yang di berikan juga berasal dari pemerintah. (Hasil kepo ke bapak penjaga warung di sana sambil mimik teh pucuk).

Drama #2

Destinasi selanjutnya tentu saja ke mall (lupa namanya) buat beli memori card. Tapi berkali-kali muter2 karena salah belok dan banyak jalan satu arah. Akhirnya tiap toko elektronik yg jual komputer kita berhenti. Sampai menemukan rekomendasi toko khusus kamera dari salah satu penjaga toko yang kita kunjungi. Sampai disana ternyata harganya mahal IDR 175,000/16GB. Mau gak mau beli lah. Waktu mau bayar sadar dompet yg isinya hanya kartu-kartu atm dan e-money gak ada. Hahahaaa… tapi aku bersyukur KTP dan NPWP dipakai buat jaminan motor. Fyuuuuhhhh…. sedikit lega. Kebetulan restleting tas memang agak rusak. Akhirnya Ana nalangin dulu sambil aku telpon CS bank-bank untuk blokir ATM. Sudah pasti selanjutnya adalah Bank BCA, buat bikin ATM baru. Mbak CS nya cantik dan mau membantu banget. Jadi merasa lebih tenang… 10 menit beres. Keluar dari Bank kita berdua ngakak. Pokoknya kalo lagi ada masalah gak usah panik. Kalau satu panik, yang lainnya harus tenang dan berkepala dingin. Di pikir karo mangan soto wae sis..

Semarang lagi super panas. Kaki sudah belang, badan sudah beruap. Kita memutuskan melipir makan di daerah semarang tengah karena sudah masuk jam makan siang. Saat kami sedang makan, tiba-tiba teman di Jakarta telpon kalau ada orang yang menemukan dompetku di Sam Poo Kong. Dia di telpon karena kartu namanya kusimpan di dompet. Lalu aku dan Ana ngakak lagi mengingat perjalanan kita yang baru beberapa jam di Semarang. Kamipun menyelesaikan makan siang sambil streaming Asian Games. Jojo sedang bertanding qaqaa…

Kamipun kembali dipanggang panasnya Semarang demi kembali ke Sam Poo Kong.  Fyuuuuhh…  thowaf di Semarang

06162856.jpg

Next destination pastinya Lawang Sewu. Begitu masuk langsung cari Mushola. Setidaknya saat keliling sudah dalam keadaan berwudhu hehehe. Cekrek sana sini dan ketawa ketiwi. Sempat merasa gerah dan mata kocar kacir kesana kemari karena mulai “terasa” tapi cuek aja. Saat menuju lantai atas bagian atap, saya gak kuat berlama-lama. Terasa gelap dan penuh. Akhirnya turun sendirian. Kebetulan di bawah gak ada siapapun. Ngeri-ngeri sedep gitu, aku memutuskan mulai bikin “benteng”. Setelah lelah mengelilingi bangunan, kita duduk di kursi taman, sampai akhirnya beberapa remaja usia anak kuliah semester 3 datang minta foto bareng. Ana bilang OK. Ana kira mereka minta tolong ambilkan foto, eh ternyata mereka minta berfoto dengan kita. Males sih… tapi yasudahlah. Entah kenapa magnet remaja selalu melekat (aku kelingan bocah-bocah Pare). Kali ini aku bersikap tenang, eh justru Ana yang panik. “Kalau foto kita di salah gunakan gimana Al?” Sekarang gantian aku yang ketawa liat dia panik. Wkwkwk

Perjalanan selanjutnya adalah kawasan kota lama. Tapi sayang akses jalan banyak yang sedang di perbaiki. Membuat kita agak bingung untuk hunting foto. Sekitar 1 jam kita habiskan waktu. Duduk di taman Srigunting. Petualangan seru di semarang di akhiri dengan kuliner lumpia basah Mbak Lin yang buat kita rasanya “Yo ngono kui”.

YDXJ0057.jpg

#Drama 3

Malam itu tak lupa kami mengabari travel kami yang akan membawa kami ke pelabuhan Kartini Jepara besok subuh. Semua sudah booking sebelum trip di mulai. Tadinya kita akan naik bus ngeteng dari Terminal Terboyo. Kebetulan aku sudah pernah. Tapi demi efisiensi dan menghemat tenaga (karena jalanan Semarang-Jepara jelek banget) kami putuskan pakai travel.

Jam 4.00 pagi kami bangun dan bersiap ke meeting point penjemputan travel. Karena sebelum tidur kami sudah mandi bahkan rambut masih basah, kami putuskan tidak mandi. Sambil menunggu, saya iseng cek koper. Ternyata koper macet. Entah karena terburu-buru jadi kombinasi tidak pas atau mungkin memang macet. Ternyata drama belum berakhir sodara hahahaha. Kuncinya tetap tenang. Lihat tutorial via YouTube atau baca artikel tips cara buka koper yang lupa kombinasinya atau macet. Belum tamat baca artikel dan nonton YouTube tiba2 jemputan sudah datang. Lalu berangkatlah kami menuju Jepara. Soal koper, dipikir engko meneh karo turu. Hahahahaa seloooooww tenan…

Advertisements

Pada satu titik

Tibalah aku pada satu titik, dimana aku bisa membiarkanmu berbicara dan aku mendengarkan

Tibalah aku pada satu titik, dimana ada seka tipis antara garis khayal dan kebenaran

Tibalah aku pada satu titik, dimana garis batas telah menguburkan segala yang harus terucap

Tibalah aku pada satu titik, dimana ribuan hari kurapali segala puisimu, tawamu, sedihmu, dan racaumu

Tibalah aku pada satu titik, dimana berkali-kali kupastikan namun semakin keliru

Segala rasanya tak pernah berubah, berderit semakin kencang, semakin sesak merajuki batinku yang sengau

Tibalah aku pada satu titik, dimana harus ku lampaui batas, seka dan akui bahwa aku mencintaimu lebih dari kemarin

MOVE ON

MOVE ON: General words meaning to leave a place:leave, move on, go away… to stop discussing or doing something and begin discussing or doing something different. Source: https://www.macmillandictionary.com/dictionary/british/move-on

Move on sebenarnya adalah hal yang general. Tapi kali ini pembahasannya berkaitan dengan relationship. Kata-kata ini terbang dikepalaku dan kuputuskan untuk menuliskannya saja supaya ku bisa tidur nyenyak dan bisa bangun sahur nanti.

Tik Tok Tik Tok.. Sudah lewat tengah malam. Oh Night! Let me finish pouring my thought!

Move on buka perkara mudah untuk sebagian orang. Fokusmu masih tertuju pada satu hal; entah dia, entah kenangannya. Bisa jadi keduanya. Move on bukan perkara melupakan. Kecuali kau benar-benar hilang ingatan. Memilih pergi, memilih meninggalkan, memilih berhenti untuk melakukan atau membicarakannya begitu menurut kamus online. Namun satu yang akhirnya aku sadar, bahwa move on adalah soal kesadaran untuk menghargai diri sendiri. Kita sering terlupa bahwa kita juga berhak bahagia.

Terlalu sibuk untuk melupakan, pergi sejauh mungkin atau mengalihkan pikiran, dan terlalu sibuk mengkhawatirkan kebahagiaan orang lain hingga lupa diri sendiri pun berhak bahagia. Aku paham bahwa bahagia itu relative. Tapi aku juga percaya bahwa bahagia itu di ciptakan. Bagaimana kita bisa menciptakan bahagia jika kita lupa bahwa kita juga perlu penghargaan dari diri sendiri?

Mungkin ini juga saatnya untuk merenung tentang mereka yang diam-diam justru menyayangimu, lebih memahamimu, mencintaimu dan merasa bersyukur kau ada di hidup mereka meskipun tidak pernah kau dengar suaranya.

Satu kesimpulannya, terkadang kita harus berhenti untuk memikirkan sesuatu yang melelahkan seperti merapal masa lalu. Karena hal yang lebih bermanfaat adalah menciptakan bahagia dari menghargai diri sendiri. Di mulai darimana? Dari berdamai dengan diri sendiri. Enjoy the process. No body’s perfect! Nothing instant! And the last is find yourself!

Selamat berbahagia wahai diri!

Jakarta, 2 Juni 2018

 

 

 

PULANG

 

DSCF9298

Matahari beriring cahaya beradu langit kota yang sendu. Pendarnya masih sama, pun debarnya.

Ada alasan Baskara menjongkah bumi yang damai ini, untuk menjadi senja. Jerumai jingga dimana kita pernah saling ada dalam kesunyian pada masing-masing batin yang saling pulang. Pun kalah pada masing-masing ambisi masa muda yang songar. Kita sama-sama lelah pada permainan ego nan rumpil. Hingga semiang ceritamu, ceritaku. Sudahilah jelaga nafas yang berjela. Heninglah pada guguh batinmu yang berbicara. Karena kita sama-sama tahu, hanya pada jingga senja kita saling berpulang.

di langit senja Yogyakarta, 10 Maret 2018

 

 

Batas, Jarak dan Rindu

Bertaut pada batas yang memisahkan logika dan emosi, merentangkan jarak pada setiap tempat dimana pernah ada kita.

Bukan 520 km apalagi 1264 km bentang antara hela nafas dan ambisi muda kita. Tapi perihal batas yang menciptakan jarak antara hati dan rindu. Perihal kau kelabui rona senja pada bibir jingga di ujung kata.

Sungguh menunggu tak pernah seperih ini. Seperti rindu bergayut biru. Tak pendar ditelan pudar. Biarkan kureguk rasanya seperti segelas kopi yang kau minum seperti air. Hilang kantukmu, hilang dahagamu. Tapi hilangkah rindumu setelah kau usap jemari cemasku.. Maka sapalah sekali lagi. Barangkali kecut hatimu bak sebongkah rindu yang mencair, hanyut dan berlabuh

Aku tak butuh Rangga apalagi Dilan. Aku cuma mau kamu..

 

Jakarta, 12 Februari di batas antara kemarin, hari ini dan esok

Dialog 28 Tahun

Kita tidak pernah tahu bagaimana esok. Sedikit banyak merapal masa lalu.

Februari, bulan hujan. Aku tak berharap 4 Februariku akan seindah tahun lalu. Bila hujan, biarlah hujan. Bila sendiri biarlah sendiri. Takbisa lagi aku muluk-muluk meminta seperti bahagiaku di 4 februari 2017. Tapi bohong juga aku tak berharap. Khawatir aku tak bertambah satu tahun depan.

Aku belajar bahwa mencintai orang lain lebih mudah daripada mencintai diri sendiri. Alvie belajar tersenyum di cermin. Berdialog pada diri sendiri untuk mencintai. Bukankah diri juga perlu bercengkrama solitaire. Menghargai keberadaan diri, menghargai bahwa setidaknya Ibu ku masih bersyukur dan berniat membuatkanku nasi kuning yang akhirnya ku cegah khawatir Ia lelah.

Memang kadar kasih orang berbeda. Ada yang sangat bersyukur untuk memilikimu. Terkadang kau sangat bahagia seseorang ada dalam hidupmu. Entah sebagai keluarga, teman, sahabat atau kekasih. Tapi effortnya bisa jadi tak sama. Maka dari itu, bersabarlah diri, hidup penuh kejutan, hidup penuh tipu daya, tapi hidup juga penuh cinta. Kau hanya belum menemukan yang seirama. itu saja.

Sungguh tahun yang berat, meskipun ada hal lain yang melesat.

Tuhan, terima kasih satu tahun lagi kau beri sempat. Izinkan hamba jadi lebih giat.

Tuhan, kali ini doaku sederhana tapi aku tahu ini berat; hadiahilah aku ikhlas atas segala ceritamu, dan sisa doaku biarlah aku dan Engkau yang tahu.

Sungguh hidup memang aneh. Seperti aku yang mulai menyukai gelato rasa kembang; Rose Petals dan Blueberry Lavender . Terima kasih diri, sudah menjadi kuat dan mengerti. Semoga bertemu tahun depan dengan kejutan yang luar biasa lagi. Supaya bisa ku sebut 4 Februari sebagai ulang tahunku, hariku.

IMG_20180205_200611

Sehari setelah ulang tahunku ke 28

di Secret Gelato, Cikini 2018.

 

Kisah Jingga dan Baskara

DSCF3222

Kali ini badai yang Jingga hadapi rasanya luar biasa. Ini lebih sulit dari badai pasir lalu.  Badai rindu ini tak kunjung tuntas, karena Ia hadapi sendiri kali ini. Bagaimana meredakan badai kerinduan? Tanyanya bingung. Segala resah dan kebahagiaan yang Baskara ciptakan adalah untuknya sendiri. Anehnya Jingga justru ikhlas. Diterimanya Baskara yang begini, Baskara yang begitu. Tapi bukankah jungkat jungkit tidak pernah bergerak jika berat sebelah?!

aSekali lagi Jingga bingung. Diakah yang justru hanya perlu berjalan mengentas menyelamatkan batinnya?

Menerima bahwa mungkin Jingga tidak pernah berada pada miampi Baskara sungguh sulit. Tidak pernah ada orang yang menyentuh batinnya begitu dalam. Tidak pernah ada orang yang membuat Jingga merekahkan senyumnya sebahagia itu. Tidak pernah ada yang membuat Jingga merasa dilindungi sehangat itu. Tidak pernah ada orang lain yang membuatnya merasa utuh. Tidak pernah ada yang membuat keresahan Jingga seolah semua baik-baik saja. Hanya Baskara yang bisa.

Tapi Baskara juga yang telah membuat Jingga kehilangan ronanya. Jingga meredup di kecup sedih. Pijarnya pudar karena Baskara tak pernah melihat Jingga seperti Jingga melihat Baskara. Baskara tak memahami Jingga seperti Jingga memahaminya. Tak pernah sekalipun Jingga meragukan seorang Baskara. Karena tidak ada tempat untuk keraguan itu sendiri.

Kini jingga harus berhenti menunggu. Musim hujan telah tiba. Air dari langit perlahan mulai menghapus rona cinta antara Jingga dan Baskara. Senyum Jingga hambar papar. Jingga masih sembunyi di balik payung hitam berlindung dari Baskara.

Jika musim panas datang, Jingga hanya perlu diyakinkan untuk tetap mau berjumpa dan bersama Baskara agar biasnya kembali berpendar cantik. 

Karena Jingga tahu tidak ada tempat untuk keraguan..

Rindu untuk Tuan

Bergayut sembilu rindu

Terperosok kisah tak kalam

Bagaimana bisa Saya rindui Tuan

Sedang Tuan hanya rindu pada diri Tuan

Gulana tak ayal berjujai

Menerka rasa tak kasat

Mencecap kenang bergayut semu

Sungguh Tuan hamba rindu

Hamba takut gelam karam lalu mati

Sebab Tuan tak jua melabuhkan hati

Bersandar peluh biru lenyap diufuk jingga

Hamba rindui Tuan yang merindukan saya

Bersama secarik sajak kerinduan antara melayu dan batavia

Hamba titip rindu untuk kalbu Tuan

Hamba tunggu di peraduan

 

Batavia, 12 Desember 2017

Tuhan Memang Maha Asyik

Terkadang aku penasaran perbedaan antara firasat dengan intuisi.

Seringkali aku tahu apa yang akan terjadi seperti orang tahu bahwa langit berwarna biru. Kusebut saja itu pertanda. Ia seringkali datang lewat mimpi yang esoknya terekam jelas dan mengganggu pikiranku. Kemudian aku berusaha melupakannya. Ku anggap itu bunga tidur. Ternyata pertanda itu hanya menunggu untuk bertemu maknanya. lalu aku hanya merasa lebih lega jika pertanda itu telah ku mengerti.

Seperti postinganku sebelumnya, aku tidak tahu kemana Tuhan akan membawa hidupku ini. Lagi-lagi aku sedang bermain pada takdir Tuhan yang orang sebut cobaan. Tapi obrolan sembari sarapan pagi ini di rumah menyadarkanku pada jenis-jenis cobaan yang sungguh nyata. Ekonomi, Jodoh, Iman, Kekuasaan, Harta, Ilmu, Kesehatan, Keturunan dan sebagainya. Pengalaman mengenyam kepahitan super di usia 25 seperti jamu brotowali level 10 dan dadar penyet pedas level 30, membuatku hanya menjalani cobaan kali ini dengan tertawa meskipun isi kepala sudah ingin meledak dan dada kian sesak.

Tuhan sungguh Maha Asyik. Tidak ada yang sulit untuknya, tidak ada yang tidak mungkin. Aku tahu kita sudah di orbit-Nya, hanya menunggu waktu untuk bertemu. Hanya menunggu waktu untuk menyadarkan kita pada apa yang memang sudah garisnya, sudah takdirnya.

Tapi sekali lagi, aku masih bingung membedakan firasat dengan intusi. Aku masih perlu waspada. Membaca postinganku sebelumnya juga membuatku mengingat lagi apa yang telah mencapaiku pada titik sekarang. Lagi-lagi aku terkekeh mengamini “never expect of something, you’ll get everything”. Tuhan memang Maha Asyik.

December rain, 2017

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑