Senjaku Tak Lagi Sama

Seperti apakah rupa takdir yang mempertemukan kita. Lucu rasaya bila kuingat jika jalan yang kutempuh sampai takdir bergulir pada jabatan tangan yang seharusnya mungkin tak pernah kulakukan.

Segala drama keluarga, percintaan, juga soal intelektualku yang diremehkan menghimpitku parah dan membuatku limbung tak sanggup berdiri ditempat dimana aku berada saat itu. Hingga aku yang terpaksa harus menunda study masterku meskipun sudah dinyatakan diterima di Universitas Indonesia. Sejak kuraba damai senja saat semua orang kembali menuju “rumah” dunia seperti berhenti tak bersuara, hanya damai. Juga matahari terbit Ijen Carter 2015 yang membuatku lupa hampir collapse di tengah pendakian, aku makin menyukai jingga. 

IMG_20170926_173852_HDR

Di timur pulau jawa, kunikmati senja seperti yang kulakukan biasanya. Kala itu aku menangkap senyumnya di ujung jingga. Sejak saat itu, senjaku tak lagi sama…

Senjaku kian sempurna saat Ia berada di dekatku. Senjaku kian hampa saat kita kian terhempas. Entah mana yang kurindui; senjaku atau senja kita??? Entah mana yang kita rindui; kita atau kenangannya??? Tapi satu yang pasti, takdir masih berjalan… Entah kemana dan kapan Ia akan merekahkan senjanya. Apakah aku harus menikmati senja lain? Aku percaya, dimanapun senja, Ia akan bertemu langit. 

“Ada orang pernah bilang, kenapa senja selalu menyenangkan. Kadang dia hitam kelam, kadang dia merah merekah. Tapi langit, selalu menerima senja apa adanya” –Sore Istri dari Masa Depan-

 

 

Mereka yang terlupa dan melupa

Mengentas batas bahwa segala sesuatu memang selesai. Segala resah di matamu adalah bukan tentangku. Tapi soal dirimu sendiri. Ada masanya kehadiran hanya soal pemanis. Ada kalanya kebaikan bukanlah soal memberi kepada orang lain. Tapi soal bagaimana “berharap itu akan kembali”. Adakalanya yang lebih ada adalah yang paling berjasa. Apalagi yang bisa kau harap dari sebuah roda kehidupan yang memang sedang berputar? Cemas? tentu! itu manusiawi. Merasa makin jauh? tentu saja! Karena jarak tak pernah berbohong.

Jarak antara mimpi yang terasa dekat, kian beranjak jauh. Seperti mereka yang kian terlupa, aku pun harus ikut melupa. Bahwa tidak ada batas antara cinta dan ikhlas. Sekeras apapun pernah terbentur dan belajar seperti master soal ikhlas, ia akan menjadi murid baru lagi saat masalah menghimpit kembali. Kurasa tidak ada orang yang benar-benar lulus dari ujian ikhlas.

Sebuah pilihan, untuk bertahan pada cerita lama atau memulai esok yang lebih teka-teki. Entah seperti apa kecemasan soal esok hari, biarkanlah… aku terlalu lelah menerka esok dari kisah kemarin yang tak pernah punya kepastian. Aku berhenti melupa untuk aku yang tak pernah menjadi prioritas. Aku menolak lupa untuk aku yang selalu menjadi option. Karena tidak ada tempat pada sebuah keraguan. Di saat yang bersamaan aku pun tak mau melupa soal ikhlas. Terserah apa yang kamu dan mereka mau dari ku. Pada akhirnya tidak penting untuk mengingat siapa aku buat mereka. Sudahlah, biar tangan Tuhan yang bekerja..

 

Definisi

Suatu hari seorang teman sedang mencurahkan kegelisahannya padaku. Sambil menunggu meeting aku mendengarkannya bercerita yang sepertinya sudah ditahannya nyaris tumpah. Bahwa setiap orang memiliki pilihannya dan prioritasnya. Termasuk panggilan pada umumnya wanita berada di “dapur”.

Bagi kawanku itu, sektor dapur bukan “panggilan” untuknya, meskipun Ia memiliki passion terhadap anak-anak dan mampu untuk melakukannya. “Kita bukan perempuan seperti itu kan Vi, yang hanya di dapur saja??” Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lebih dari itu, aku sedang berusaha untuk tanggap keduanya. Seperti postinganku sebelumnya, cita-citaku adalah menjadi Ibu yang mampu mendidik anaknya. Aku paham betul bahwa perempuan juga memiliki kebebasan mutlak untuk menjadi apa dan melakukan apapun untuk dirinya. Emosi dan perasaan menjadi kekuatan seorang wanita. Tapi dia juga seperti dua mata panah yang melesat. Bisa membunuh musuh (masalah) juga bisa membunuh diri sendiri (perasaan sendiri). Aku belajar bahwa untuk menjadi wanita yang cerdas, mampu mengendalikan emosi dan logikanya. Walau bagaimanapun, intuisi wanita selalu menjadi senjata yang harus selalu diasah. Buatku, intuisiku tak pernah mengkhianatiku. Perasaan dan batin yang tajam ini mampu membantuku memilah, mana yang sahabat, mana yang kawan. Mana yang positif, dan mana yang negatif. meskipun terkadang logika terkapar parah, aku berusaha untuk membangkitkannya. Bukan untuk apapun, hanya untuk diriku sendiri supaya menjadi “wanita yang cerdas”.

Aku tak peduli bahwa masih banyak orang yang meng-underestimate-ku. Itu bukan ranahku lagi. Aku hanya berusaha memperbaiki diri, berusaha membuat kualitas diri dan hidup yang lebih baik. Namun sayangnya masih banyak yang tidak menghargai proses. Toh mereka tak perlu tahu bagaimana prosesku sampai titik sekarang, dan pada kenyataannya memang banyak orang yang tidak peduli pada proses perjalanan, apa yang telah dilalui. Banyak yang hanya percaya bahwa “pintar” adalah soal akademis dan finansial. Tapi buatku, tanpa kecerdasan emosional semua hanyalah berbanding dengan 0 besar. Hai wanita, jadi apapun itu, adalah hak mu. Tapi untuk menjadi wanita cerdas adalah sebuah pilihan. Cerdas, pendidikan, cantik, dan sukses memiliki banyak definisi. Namun definisikanlah dirimu dengan lebih bijak.

 

 

Fakultas Kopi, 22 September 2017

 

Bahagiaku cukup sederhana

Peace of soul
Teratai melambangkan keadaan jiwa dan nurani yang bersih untuk mencapai kebahagiaan

Terkadang seseorang memang butuh merenung sendiri. Aku hidup untuk mencari makna hidup. Terdengar seperti pertanyaan orang yang masih mencari jati diri. Masih ada rasa utuk menolak penjelasan mengapa aku begini, mereka begitu. Kenapa ini itu? berbagai pertanyaan terbang di kepala dan benakku.

Beberapa tahun belakangan, ketika huruf-huruf bermargin menumpuk di kepala dan batin, aku berlari mencari orang terdekat untuk ku ajak bicara, untuk menemukan jawaban yang ingin ku dengar. Ya hanya jawaban yang ingin ku dengar. Namun namanya juga kehidupan, ada saatnya semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan aku hanya mampu tenggelam dengan pikiranku sendiri. Tapi justru disitulah malah kuandalkan diriku dengan keruwetan pikiran ini, aku dapat menjinakkannya. Pada dasarnya, keruwetan pikiran yang kau ciptakan sendiri juga menciptakan penawarnya di saat bersamaan. Hanya saja belum waktunya ditemukan. Masalahmu ya solusimu.

Lelah rasanya membandingkan aku dengan orang lain yang terlihat lebih “enak dan mulus” hidupnya. Urip iku sawang sinawang. Lalu aku coba ubah perspektif hidupku untuk menebar cinta dan kasih sayang pada siapapun, pada semua makhluk. Tak peduli apakah mereka yang ku beri derma akan membalasnya atau tidak. Itu bukan ranahku lagi. Tidak muluk-muluk, yang aku mau hanya kedamaian jiwa.

Kucoba kenali lagi siapa diriku ini. Butuh waktu, hingga apa yang kujalani saat ini sebagai wanita yang bekerja kantoran adalah sesungguhnya bukan aku. Suatu hari aku terharu melihat ibu yang akrab bercanda dengan anaknya. Kepenatan seharian bisa begitu saja hilang saat aku melihat video bayi dan anak-anak. Bayi, balita dan anak kecil pasti langsung dekat denganku. rasanya ada damai yang tak bisa ku gambarkan. Dari situ aku tahu, bahwa cita-cita tertinggiku adalah untuk menjadi Ibu yang fulltime mendidik anaknya sendiri. Aku akhirnya sadar perjalanan hidupku yang seperti dadar penyet ini adalah sebuah tempaan kehidupan untuk menuju cita-citaku yang tertinggi; menjadi seorang Ibu. Perlahan aku belajar pada teman-temanku yang telah menjadi ibu, bahwa memang ada kapasitas yang mumpuni pada diri mereka sehingga Tuhan memberikan rizkiNya untuk menikah dan menjadi Ibu. They deserve it 😊. Kini aku perlahan belajar bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Kini perlahan aku belajar untuk memiliki kapasitas menjadi seorang wanita yang pantas di sebut istri dan ibu. Perlahan aku belajar untuk menguatkan jiwa atas segala cobaan yang datang. Yang sudah ya sudah. Kini aku belajar bahwa tak semua pertanyaan memiliki jawabannya.

Cita-cita keduaku adalah mempunyai coffeeshop. Kenapa aku masih bekerja, simple, untuk cita-cita ini aku butuh uang, hahahaha… selain itu aku belajar bagaimana sebuah bisnis bisa terus berjalan dari pekerjaanku saat ini disamping untuk merumahkan otakku supaya berguna. Bagaimanapun, Ibu yang baik adalah mampu berdiri sendiri dalam situasi apapun dan memiliki kemantapan jiwa dan pemikiran bukan?! Sekuat dan sehebat apapun wanita, Ia tetap perlu pria, yang perlahan sedang ku rayu Tuhan dengan caraku. 

Orangtuaku berpesan:  “ora opo-opo uripmu susah saiki, urip yo ono ngglosore, wong poso yo ono bodhone, seng penting ora lali karo seng nduwe urip. Uberen koyok opo lho nak durung rejekimu ora bakal kecekel. Ojo sekali-sekali njupuk seng ora dadi hakmu. Suatu saat kamu gak bakal kaget dadi wong cilik utowo wong gede semisal roda kehidupan muter”.

“Tak apa hidupmu susah saat ini, hidup juga ada glosornya juga, orang puasa ada lebarannya, yang penting tidak lupa dengan yang punya hidup. Kamu kejar seperti apapun kalau bukan rejekimu tak akan dapat. Jangan sekali-sekali mengambil yang bukan hakmu. Suatu saat kamu tidak terkejut bila menjadi orang kecil atau sukses saat roda kehidupan berputar”.

Kini pesan itu selalu menjadi bekalku dimanapun, prinsipku yang kini sedang ku internalisasi kepada adik kecilku juga orang-orang terdekat.

Tuhan, terima kasih.. Bahagiaku ternyata sudah ada di depan mata, hanya saja aku terlalu sibuk menterjemah dan mencarinya dan melupakan syukur. Tuhan ijinkan hamba terus menebar kebaikan di jalanMu.

 

19 September, 2017

Cinta atau Kompromi

 

Obrolan di sebuah warung padang malam itu membuatku memikirkannya sambil menyeruput kopi hitam. Coffee shop kecil dengan roof top di pinggir sungai dengan lampu-lampu yang bergelayut temaram. Cahayanya gemerlipan terpantul di robustaku karena lampunya di tiup angin.

“itu namanya bukan cinta”

Kata-kataku sendiri terngiang terus ditelingaku. Itulah yang sedang kupikirkan. Apakah masih perlu “cinta” untuk berjalan bersama? buatku cinta itu suci, datang begitu saja. Tanpa suara namun deranya riuh. Bagaimana bisa dua orang berkompromi untuk menjalin hubungan tanpa cinta?

Aku terlupa begitu banyak kepentingan yang berkamuflase menjelma dengan embel-embel cinta. Aku tidak bisa mencerna “menjalin hubungan percintaan atas dasar kompromi”. Kompromi mungkin akan berjalan disaat semuanya baik-baik saja. Saat ragamu masih utuh dan kulitmu masih kencang, saat semuanya masih ada digenggamanmu. Namun ketika raga menjadi tak sama, saat keadaan menghimpitmu payah, dan menemukan titik lemah untuk berkompromi, apakah disitu sebuah akhir? Saat semuanya berubah, apakah kompromi masih cukup untuk membuat sebuah hubungan utuh? Hatiku bilang “tidak”.  Terlalu suci cinta untuk hanya diganti dengan kompromi. Hubungan atas dasar kompromi buatku seperti 2 jiwa dan hati yang tak pernah menyatu.

Aku selalu melihat mata itu, mata seorang pria yang penuh cemas dan bersedih ketika berbicara tentang hubungan komprominya.

Sedikit terlambat untuk memahami bahwa mencintai begitu sederhana namun kisahnya saja yang rumit. Mencintai seseorang seperti menemukan dimensi lain di dalam jiwanya. “You can’t explain what you see in person. It’s just the way He/She take you to a place where no one else can”.

Cinta bukan untuk ditemukan. Namun Cinta akan saling menemukan. Dengan begini, bagaimana bisa saling meninggalkan..

Namun itulah hidup dan pilihannya, manakah yang ingin kau genggam, atau mana yang ingin kau biarkan bebas. Ada bagian cinta seperti ilusi senja jingga magis yang hanya bisa dinikmati saat itu saja. Kemudian ketika matahari terbenam, semuanya gelap. Melodinya lenyap berganti gema yang berderap dihati mencari kebenaran. I’ll stay if you stay.

Tapi cinta, dimanapun ia berada, they will find the way to be us.

Jadi jika kutanya lagi diriku, “Apakah masih perlu “cinta” untuk berjalan bersama?” Jawabannya “tentu saja”. 

 

Jakarta, 23 Agustus

Di teras lantai 18.

 

The Wall and The Breaker

Setiap orang memiliki dindingnya sendiri. Dinding yang terbangun atau sengaja dibangun.

Dalam kesendirian, di tempat dimana tak ada seorangpun yang kau kenal kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri. Dalam kesendirian pula kau akan mengenal dirimu yang sebenarnya.

Jangankan menemukan kawan sepantar, berkenalan dengan orang baru rasanya sulit buatku. Pengalaman-pengalaman pahit pertemanan sebabnya. Tuhan memberikan anugerah berupa perasaan yang kuat dan bisa paham seperti apa sifat orang yang sedang kutemui. Itu semua tak pernah mengkhianati. Justru pertemananku dimulai dengan mereka yang menyapa atau mengajakku berkenalan duluan. Keuntungannya, aku memiliki kualitas teman yang benar-benar teman. Tapi itu yang membuatku dicap sombong dan sulit menjalin pertemanan. Sedih sih, tapi ya bagaimana, itu sifat dasarku yang juga aku tak suka. Berulangkali berusaha untuk mengubahnya, My Bad! I just can’t make it. Hehehehe… dan … inilah yang kumaksud dindingku. Tidak mudah memasukkan oranglain ke dalam kehidupanku.

DSCF4004

Di tempat itu, setelah berhari-hari tak memiliki teman dan kemana-mana sendirian, aku malah menyapa seseorang. Entahlah, dia orang pertama yang ku ajak berkenalan di tempat itu. Bertemu dengannya seperti menemukan “aku” yang sesungguhnya. Aku bersedia berbagi dengan orang asing sepertinya. Apapun yang kusimpan entah kenapa melontar dengan mudah di hadapannya. Kami tak pernah kehabisan topik bersama kopi hitam favorit yang menemani atau es teh kesukaan kami. Biasanya aku yang akan cerewet bercerita dan minta didengar. Namun, Dia membuatku menjadi pendengar dongeng-dongengnya, guyonannya, cerita hidupnya, pekerjaannya. Anehnya aku tak pernah merasa keberatan. Mungkin seperti Jonas Blue bilang perfect stranger – (who break my wall.)

copy DSCF3842

Menatap jingga matahari terbenam maupun matahari terbit sudah menjadi hal favoritku sejak lama. Beruntung ditempatku berdiri, menemukan jingga indah nan magis tidaklah sulit. Kami pun kerap menikmatinya bersama kemudian tenggelam pada pikiran masing-masing. Beberapa temanku di Jakarta berkomentar soal foto yang ku share di media social. Mereka bilang senyumku terlihat lebih bahagia. Ya, aku sangat bahagia. Ini hidup seperti yang kuharapkan. Kutemukan diriku yang sesungguhnya dan ada kebahagiaan lain yang kutemukan semua terasa lengkap.

Tak pernah tahu permainan takdir akan membawaku kemana lagi dalam cerita ini. Diam-diam aku jatuh. Meski ku kebas-kebas segala lamunan dan kucubiti lenganku untuk segera tersadar. Tapi aku percaya tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. Radarku menangkap gelombang gundah dan dahaganya yang tak kian tuntas. Aku mengentas, meretas teka teki batinnya. Perihal batas. Aku disapih pada batas dan dinding bisu yang tak mau Ia dengar suaranya lebih dalam. Kini kumelarung rindu dan sabar yang kuletakkan di ujung tekad permainan takdir. Biar Tuhan yang bekerja. Toh Tuhan tak pernah tidur. Skenario terbaik sudah ada di tanganNya. Kami para wayang hanya menunggu lakon kami dimainkan oleh sang Dalang kehidupan.

Kawulo mung sadermo, mobah mosik kersaning Hyang sukmo.

Close your mind or take a risk

Aku meringkuk pada riuh Jakarta

Lelah, pekat dan tajam

Aku tersungkur dalam jejak nyata

Aku beringsut menyaut koper yang telah lama ku isi

Aku pergi

Sendiri…

Lalu, perjalanan ini dimulai.

Aku menyeruput raspberry latte starbucks sambil mewarnai buku gambar di Setiabudi One building sepulang kantor. Aku merasa masih “entahlah – Nano-nano” atas keputusan besar yang akan kuambil. Mungkin dengan sendirian akan memberikan aku jeda lebar untuk berpikir dan mewarnai dapat menata emosi yang mengambang. Kuseruput lagi minumaku hingga dering telepon dari ibuku yang mengecek keberadaanku membuatku berkemas pulang.

Menjelang akhir September 2016. Aku semakin menjadi menikmati hari-hari dimana hiruk pikuknya seperti irama yang menari dan kurekam setiap ritmenya di otak. Sepinya Trans Jakarta di jam 08.30 pagi dan padatnya Trans Jakarta wilayah Kuningan Jakarta Selatan di jam pulang kantor. Orang-orang yang sama yang kerap ku temui di shelter. Senyum teman-teman di kantor, candaan para OB, Pak Satpam, detail lift dan tangga yang kian aku amati, sudut meja kerjaku dengan segala foto yang kupajang, tumpukan buku yang sedikit demi sedikit ku bawa pulang, juga setiap detil jalan yang ku lalui ku rekam semakin dalam. Hampir setiap hari ku isi dengan meet up dengan orang-orang terdekat untuk berpamitan. Bagaimanapun keluar dari comfort zone tak pernah mudah. Semua itu akan segera ku tinggalkan untuk menyusun langkah besar.

But you can say what is, or fight for it
Close your mind or take a risk
You can say, “It’s mine,” and clench your fist
Or see each sunrise as a gift (Up&Up, Coldplay)

Lagu ini terngiang terus di telingaku. Close your mind or take a risk,  yeah I did it. Setelah segala drama di 2015 dan mengekor di 2016, rasanya itu pilihan yang tepat. Mewujudkan cita-cita, ambisi, dan spasi. Itu yang aku benar-benar butuhkan.  Aku percaya Tuhan akan berikan jalan.  Something better waiting me, and I believe it. 

Singkat cerita, aku memulai solo trip ku di Bali. Aku masih ingat bagaimana anak manja ini berpamitan dan menahan air mata agar tak jatuh di depan orangtuaku. Aku bungsu yang gagal karena setelah 11 tahun, aku memiliki adik. Jadi sifat manja itu masih melekat. Aku menolak tawaran Abahku untuk mengantarku ke Bandara Halim yang jaraknya dapat ditempuh 20-30 menit saja dari rumah tanpa lewat tol. Bagaimanapun perpisahan walau sementara adalah moment yang tidak pernah disukai siapapun. Ibuku menangis, memelukku dan mencium pipiku. Aku melihat mata merah Abahku saat membawakan koper jinjing gambar minionku itu ke dalam mobil grab yang ku naiki. Bagaimanapun, for him, I always his little girl. Setelah 8 tahun, ini adalah moment aku merantau dan jauh lagi dari rumah untuk waktu yang sedikit lama. Rencanaku Desember aku sudah kembali.

Dalam perjalananku di Bali, aku menemukan banyak sekali hal menarik. Bahwa teori perubahan sosial itu pasti terjadi benar-benar membuatku terbelalak. Kawan tak selamanya kawan sesungguhnya. Namun, kawan baik selalu ada. Kudedikasikan untuk Widya Pramunsita teman SMA ku yang tak pernah berubah sikapnya terhadapku, Nadya Pryana kawan yang selalu memberi waktu setiap ada kesempatan. Ironisnya, saudara tak selamanya sekental darah. Membuatkubersyukur persaudaraan dengan orang-orang tulus menjadi sangat berharga.

Hidup dalam ritme yang aman membuatku merasa bahwa segala sesuatu harus sesuai rencana dan harus aman. Aku takut memulai ini itu. Sampai seorang teman berkata; “Duh Fi, lo apa-apa takut, gimana mau nikmatin hidup!”. Aku terhenyak. Sunset jingga keemasan Kuta Bali yang indah itu menenggelamkanku dalam perkataan temanku yang seperti menamparku. Hingga aku putuskan untuk mulai mengandalakan diriku sendiri dalam langkah yang kuambil di hari-hari berikutnya, expect the unexpected. Lalu kurasakan aku merasa lebih lepas, lebih bebas.

2016_1007_07341300.jpg

Aku selalu berdoa kepada Allah untuk melindungiku dan memertemukanku dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Aku di pertemukan dengan Pak Wayan Jendra. Rambutnya gondrong seperti rocker, Tattoo di seluruh tubuhnya dan kaca mata hitam menempel di hidungnya. Beliaulah yang pada akhirnya membantuku keliling Bali dengan mobil sewaannya. Awalnya aku ragu karena penampilannya yang menyeramkan. Tapi entah kenapa aku yakin, setiap orang baik akan dipertemukan dengan kawan yang baik pula. Beliau kaget aku hanya sendirian di Bali. Setelah tawar menawar harga sewa mobil, beliau akhirnya sepakat dengan berkata “Ya sudah, ndak apa-apa, yang penting Alfi tidak sedih lagi”. Aku terkekeh ringan, “Emang segitu kelihatannya yah Pak saya”?. Obrolan sore itu di tutup dengan gelak tawa kami, Pak Wayan, Aku dan pemilik warung di dekat Desa Nyi Luh Kuning, Ubud Bali.

 

Terima Kasih Ya Allah, Kau dengar segala doa Ibu, Abah, dan doaku untuk selalu menyertaiku, melindungiku dan memberkahiku dimanapun aku berada. Allah Maha Baik.