Orang Biasa

DSCF3828

Sampai sekarang aku masih sering bertanya pada diriku sendiri “Jadi, manfaatmu apa di dunia ini?”

Aku terlahir dari keluarga yang penuh perjuangan. Baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan kekeluargaan. Aku pernah berada di titik dimana aku memiliki segalanya, sebagai anak-anak apa yang ku ingin bisa kubeli. Tapi orangtuaku paham betul soal perjuangan. Buat mereka segala sesuatu butuh proses, tidak ada sesuatu yang instan. Krisis moneter 1998 berimbas juga pada roda perekonomian sebagian besar bisnis di Indonesia, termasuk Jakarta, termasuk bisnis keluarga kami. Benar seperti Abahku bilang; bahwa keinginan gusti Allah itu hanya sekedip mata, roda itu berputar. Orangtuaku tidak berpendidikan tinggi, tapi universitas kehidupan telah menempa mereka. Di saat sulit seperti itu mudah sekali menyeleksi siapa “keluarga sebenarnya”. Siapa yang akhirnya harus dijaga dan diingat selamanya. Alhamdulillah sesulit apapun kami tidak pernah sampai putus sekolah, hanya sedikit menahan lapar. Ada momen diusia ku yang ke 12 tahun, selama 3 tahun aku merasa seperti di buang. Keluar dari rumah dan tinggal di tempat yang entahlah rasanya pahit sekali untuk kuingat dan menyeretku ke drama keluarga besar yang memuakkan. Kemudian 3 tahun lagi masa-masa SMA ku lagi-lagi jauh dari orangtua dan keluarga. Berkali-kali aku harus berjuang rasanya melepas kebebasan selama berada ditempat yang tak pernah kutuju “pengasingan”. Perjuangan masih berjalan hingga saat ini. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan tanpa henti??

Perjalanan hidupku memang tak ada apa-apanya. Tapi di saat-saat kritis pubertas seorang remaja, aku tak punya siapapun. Aku tumbuh berkesperimen terhadap hidupku sendiri. Tak ada yang memotivasi sebaiknya nanti aku jadi apa saat dewasa, kuliah dimana, apa yang harus kulakukan dengan prestasi belajarku, curhat saat sedang naksir seseorang, patah hati dan sebagainya. Aku sendirian. Namun, karena aku sendirian aku menemukan solusi-solusiku sendiri. Mereka bilang aku lebih dewasa dibanding usiaku. Tapi banyak yang tak paham kekosongan di dalam jiwa ini. Hingga aku akhirnya bisa membaca signal kosong dan redup pada jiwa seseorang.

Aku paham betul rasanya sendirian. Tidak enak. Aku dengan mudah membaca signal gundah pada beberapa temanku. Mereka orang-orang yang selalu menyediakan kuping dan bahu saat persoalan hidup menghimpitku. Ada 3 orang dalam sehari yang kuhubungi. Satu di Tangerang, satu di Bangka Belitung, satu di Pacitan. Setidaknya dalam keadaan seperti itu, mereka hanya perlu telinga untuk didengarkan, mungkin nasihat malah akan numpang lewat. Sejak dulu aku menjadi tong sampah curhatan orang lain. Curhatanku sendiri sudah ku olah jadi kompos.

Terkadang aku masih mempertanyakan mengapa jalan hidupku seperti ini, di saat orang lain sudah berlari marathon, aku masih berusaha belajar berjalan. Hidup mereka rasanya kok ya mulus saja. Beberapa orang sedang bangga memiliki teman dan koneksi orang-orang hebat. Beberapa orang berbangga dengan apa yang telah dicapainya. Tapi aku masih disini jadi penonton. Perlahan aku sadar bahwa mungkin itu fungsiku. Aku bukan orang hebat, tapi Tuhan mungkin mentakdirkanku untuk tetap berada di ranah ini. Mungkin Tuhan mengajariku untuk membuat pilihan. Jadi wanita biasa yang hanya jadi supporter. Atau jadi wanita biasa yang jadi supporter juga penasehat supaya mereka keep on track, memberikan tepuk tangan paling keras untuk keberhasilan orang lain, dan menyediakan bahu juga memeluk erat saat dunia mereka seperti runtuh. Aku memilih untuk jadi yang kedua. Karena jadi wanita biasa itu membosankan. Setidaknya aku masih punya manfaat.

Entahlah kemana lagi Tuhan akan membawaku. Semoga aku tetap bermanfaat meski tak diingat.

Jakarta, Hujan bulan Oktober 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: