Batas, Jarak dan Rindu

Bertaut pada batas yang memisahkan logika dan emosi, merentangkan jarak pada setiap tempat dimana pernah ada kita.

Bukan 520 km apalagi 1264 km bentang antara hela nafas dan ambisi muda kita. Tapi perihal batas yang menciptakan jarak antara hati dan rindu. Perihal kau kelabui rona senja pada bibir jingga di ujung kata.

Sungguh menunggu tak pernah seperih ini. Seperti rindu bergayut biru. Tak pendar ditelan pudar. Biarkan kureguk rasanya seperti segelas kopi yang kau minum seperti air. Hilang kantukmu, hilang dahagamu. Tapi hilangkah rindumu setelah kau usap jemari cemasku.. Maka sapalah sekali lagi. Barangkali kecut hatimu bak sebongkah rindu yang mencair, hanyut dan berlabuh

Aku tak butuh Rangga apalagi Dilan. Aku cuma mau kamu..

 

Jakarta, 12 Februari di batas antara kemarin, hari ini dan esok

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: